|
eadaan
ini
semakin menurunkan kredibelitas RI di mata
masyarakat international, hanya karena prilaku-prilaku
fasis serdadu militernya di Acheh. Selain itu mobilisasi
militer juga akan merusak
bangunan demokrasi yang sedang dibangun RI dalam
rangka mengimplementasikan agenda reformasi serta
meruntuhkan semangat Hasan Wirayudha selaku arsitek
dialog di pihak RI dalam mewujudkan perdamaian di Acheh.
Jakarta
penuh kontradiksi. Di satu pihak Presiden Megawati dan
Wapres Hamzah Haz ingin menyelesaikan konflik dengan
pendekatan persuasif dan dialogis. Akan tetapi, di lain
pihak pendekatan militeristik semakin menonjol selama ia
naik ketampuk kekuasaan. Sikap
dualisme itu secara
otomatis mengakibatkan penyelesain konflik Acheh melalui
cara damai dan dialogis semakin jauh, sementara fasisme
makin mengakar atau meluas.
Selama
Inpres No. 4 dan perpanjangannnya Inpres No. 7 Tahun
2001 diberlakukan yang penekanannya terfokos pada bidang
keamanan, telah mengakibatkan jatuhnya korban
jauh lebih banyak dari waktu-waktu sebelumnya. Apalagi
dengan penambahan pasukan hingga 50 batalyon yang dibagi
dua dengan Papua, berarti akan ada penambahan pasukan
paling sedikit 30.000 ribu personil untuk Acheh. Tindakan
politik model itu diperkirakan akan mengakibatkan
jatuhnya korban di kalangan rakyat dan pihak berkonflik
jauh lebih banyak.
Kebijakan
ganda Pemerintah RI akan mempersulit proses dialog.
Selain itu merupakan upaya dan skenario besar untuk
memelihara konflik di Acheh agar berkelanjutan. Upaya ini
merupakan gerakan pembodohan dan penindasan rakyat Acheh
di satu pihak dengan mencari
keuntungan sebanyak-banyaknya bagi penguasa RI di pihak
lain, termasuk penggunaan Acheh sebagai lahan untuk
mencetak para jendral. Padahal secara logika, makin
banyak pasukan dikirim ke medan perang semakin banyak
pasukan petempur itu tewas akan semakin banyak anak
yatim atau janda yang ditinggalkan.
Agaknya
para petinggi militer tidak lagi melihat sisi
kemanusiaan demi mengejar kepentingan yang lebih
menguntungkan dirinya. Selain itu sungguh disayangkan
keinginan pihak-pihak yang masih ingin menyelesaikan
konflik dengan pendekatan dialogis berbenturan dengan
tindakan militeristik, karena tidak mungkin dialog
berhasil bersamaan dengan pendekatan
militeristik. Agaknya pihak militer juga telah tidak
menghargai keinginan ini, termasuk keinginan Presiden
Mega dan Wapres Hamzah Haz sekalipun keinginan mareka
berdua hanya bagian propaganda untuk membentuk opini
kepada masyarakat internasional bahwa RI sangat serius
dalam membangun demokrasi, HAM dan perdamaian, walaupun
kenyataannya tidak demikian.
Di
samping itu pendekatan militeristik ini tidak menghargai
demokrasi, penghancuran HAM dan mempertinggi kejahatan
kemanusiaan, serta mempercepat proses
genocide bagi etnis Acheh (baik secara fisik maupun
sosial dan kultural).
Informasi
lebih lanjut, silahkan hubungi:
FAISAL
RIDHA (Juru Bicara Dewan Presidium SIRA)
HP
+
62
(0) 8126902190
|