AT Halaman Muka Arsip, versi Inggris Arsip, versi Malay Surati Kami

 

 
 
 
 

Fragile archipelago

Indonesia secrete
 
The Acheh Times is best viewed by:
Perang Gerilya yang Berterusan karena Aparat RI Kehausan Wang
 
28 Des, 2001 (THE NEW YORK TIMES) —— Ketika Megawati Sukarnoputri menyampaikan pidato pentingnya yang pertama sebagai presiden RI dalam bulan Ogos yang lalu, beliau telah meminta maaf atas berbagai pelanggaran hak-hak asasi manusia yang telah dilakukan oleh serdadu-serdadu Indonesia dalam memerangi para gerilyawan kemerdekaan di beberapa daerah di Indonesia. "Kita memerlukan pasukan keamanan yang effektif, dengan taraf disiplin yang tinggi dan berada di bawah kontrol pemerintah." katanya. Tetapi hingga kini Puan Megawati tidak berbuat apapun untuk memperbaiki kelakuan askar ataupun polis negaranya. Kelakuan mereka yang brutal merupakan salah satu sebab utama berterusannya konflik di  Acheh, satu pergolakan yang berlangsung paling lama, paling dahsyat dan terpenting di antara pemberontakan-pemberontakan pemisahan di Indonesia.

 

Terjemahan dari:
"A Guerrilla War Stoked by a Thirst for Cash"
By Tina Rosenberg
New York Times/Dec27, 2001
EDITORIAL OBSERVER
 
Penerjemah: M.N. Djuli
 
Back ] Up ] Next ]  

 
'Kelakuan pihak pasukan-pasukan keamanan telah menyebabkan orang Acheh tidak mungkin menerima langkah-langkah tersebut.'

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

'Perjuangan separatisma Acheh pada umumnya adalah suatu gerakan kebangsaan, tetapi dibungai oleh ketidakpuasan dalam soal ugama - Acheh merupakan daerah di mana Islam lebih tegas dari di daerah-daerah Indonesia yang lain - dan soal wang.'

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

'Sekiranya kerajaan Indonesia berharap untuk mengakhiri peperangan-peperangan gerilya di berbagai wilayah negara itu, ia mestilah mengambil tanggungjawab atas kelakuan serdadu-serdadunya.'

  epanjang 50 tahun berlangsungnya gerakan kemerdekaan itu yang kadang-kadang terhenti seketika, para pemimpin Indonesia telah mencoba untuk mengambil beberapa langkah untuk menemukan satu penyelesaian secara damai. Tetapi kelakuan pihak pasukan-pasukan keamanan telah menyebabkan orang Acheh tidak mungkin menerima langkah-langkah tersebut.

Kebrutalan tersebut berpunca pada satu masalah yang sederhana saja - pemerintah pusat hanya membiayai satu perempat saja dari belanjawan pasukan-pasukan keamanan negara. Panglima-panglima tempatan dan serdadu-serdadu mereka secara perseorangan terpaksa menutup sendiri kekurangan belanjawan itu. Untuk mencapainya, mereka sering melakukan jenayah. Di Acheh pihak tentera Indonesia dan sekarang termasuk pula Brimob, yaitu pasukan gerak cepat Polis, bertindak buas tanpa ada sesiapapun yang mengawasi. Mereka membunuh, memeras dan menculik ribuan orang tiap tahun.

Konflik di Acah sangat bermakna bagi kebanyakan rakyat Indonesia yang menghargai perpaduan nasional dan sangat kuatir sekiranya Acheh mencapai kemerdekaan maka daerah-daerah lainnya mungkin menyusul. Bangsa Acheh sangat mendukung tuntutan kemerdekaan. Acheh, satu wilayah berpenduduk empat juta jiwa yang terletak di ujung Baratdaya Indonesia, adalah sebuah Kesultanan yang berdaulat selama sembilan abad. Bangsa Acheh telah menolong Indonesia dalam perjuangan menentang penjajahan Belanda. Setelah Indonesia mencapai kemerdekaan dalam tahun 1949, ia meng-anneksi Acheh dengan cara paksa, dan semenjak itu bangsa Acheh telah merasa sakit hati kepada Indonesia. Beberapa gerakan gerilya telah muncul mula-mula untuk menuntut otonomi, sekarang kemerdekaan. Konflik yang ada sekarang ini telah berlangsung sejak tahun 1990. Peperangan, dan kebrutalan terhadap masyarakat awam, telah meningkat tinggi tahun ini.

Perjuangan separatisma Acheh pada umumnya adalah suatu gerakan kebangsaan, tetapi dibungai oleh ketidakpuasan dalam soal ugama - Acheh merupakan daerah di mana Islam lebih tegas dari di daerah-daerah Indonesia yang lain - dan soal wang. Wilayah ini adalah salah satu penghasil minyak dan gas yang utama di dunia, tetapi Jakarta hanya memberikan kembali 5 % saja kepada Acheh. Undang-undang otonomi yang baru bermaksud menangani masalah ini, dengan menawarkan 70 % kepada Acheh dari hasil minyak dan gasnya dan pelaksanaan undang-undang Islam. Tetapi banyak pihak di Acheh tidak suka bahwa undang-undang tersebut telah digubal tanpa penyertaan pendapat tempatan.

Issue utama hari ini bagi ramai orang Acheh adalah kelakuan pasukan-pasukan keamanan, dan kegagalan kerajaan Indonesia untuk membawa ke pengadilan mereka yang telah membunuh orang awam. Gerilyawan Acheh Merdeka juga melakukan pembunuhan atas orang-orang awam yang tidak bersalah dan mengancam pegawai-pegawai kerajaan dan wartawan, tetapi tentera dan polis Indonesia bertanggungjawab terhadap 80 hingga 90 peratus dari pembunuhan orang-orang awam di Acheh. Purata satu pembunuhan atau penculikan terjadi tiap hari dan mungkin sekali jumlah yang sama tidak dilaporkan.

Baru-baru ini, salah seorang peguam hak-hak asasi manusia Acheh, Abdul Rahman Yacob, telah datang ke Amerika Serikat untuk menerima anugerah dari Human Rights Watch. Abdul Rahman, yang usahanya dibiayai oleh USAID (Agensi Amerika Serikat untuk Pembangunan Antarabangsa), memberi satu gambaran pasukan-pasukan keamanan Indonesia sebagai bankrap dan merajalela dalam melaksanakan kebrutalan terhadap mangsa-mangsa yang hanya mempunyai hubungan sepintas lalu saja dengan gerilyawan. Dalam bulan Mac yang lalu salah seorang peguam dalam organisasinya sendiri telah dibunuh, yang menurut saksi-saksi oleh Brimob, yaitu  briged gerak cepat Polis Indonesia, yang telah menggantikan tentera di Acheh [dalam pimpinan operasi]. Menurut Abdul Rahman Yacob, ancaman-ancaman terhadap dirinya sendiri telah begitu sering hingga beliau tidak lagi menjawab panngilan telefon.

Seringkali kekerasan di Acheh serupa juga seperti yang terjadi di peperangan-peperangan gerilya di tempat-tempat lain. Sekiranya pihak gerilya membunuh seorang anggota keselamatan, rekan-rekannya akan membantai 30 orang awam sebagai balasan. Pihak pimpinan tentera di Jakarta tidak pernah melakukan sesuatu apapun untuk menghentikan perbuatan terror seperti itu, bahkan menganggapnya suatu cara yang berguna dalam keadaan dimana askar-askar kerajaan tidak terlatih dengan baik dan tidak dibekalkan dengan sempurna untuk betul-betul dapat memenangi suatu peperangan gerilya.

Namun demikian, kebanyakan tindakan-tindakan brutal pasukan-pasukan keamanan Indonesia adalah untuk mendapatkan wang. Sememangnya anggota-anggota Polis dan Tentera Indonesia terlibat dalam kumpulan-kumpulan jenayah di seluruh Indonesia, tetapi di daerah-daerah perang tentunya perbuatan itu lebih mudah lagi, di mana komandan-komandan tempatan boleh memaksa para pengusaha dan pedagang untuk membayar wang perlindungan. Anggota-anggota Brimob, menurut sebuah laporan, hanya dibayar tidak sampai 60 sen US (RM 2.30) sehari, tidak cukup untuk membeli sebungkus rokok. Mereka menambah pendapatan mereka dengan pemerasan di pos-pos sekatan jalan raya, dan kerja-kerja pemerasan lainnya serta penculikan.

Ramai pemimpin Indonesia, nampaknya termasuk presiden, sedar bahwa kerajaan perlu melaksanakan proses professionalisasi tenteranya. Belanjawan pertahanan yang lebih besar tidak akan mencapai tujuan tersebut sekiranya kerajaan tidak memperbaiki latihan dan menjalankan aturan-aturan perilaku yang tegas dan mengakhiri impuniti. Tetapi dalam sebuah negara yang begitu papa hingga tidak sanggup membayar gaji guru atau doktor, kecil kemungkinan belanjawan untuk pertahanan boleh tiba-tiba dinaikkan. Selain dari itu, panglima-panglima tentera yang begitu berkuasa, akan menentang terus untuk mempertahankan sistem yang membolehkan mereka menjadi kaya dan melindungi mereka dari tuntutan tanggungjawab. Sekiranya kerajaan Indonesia berharap untuk mengakhiri peperangan-peperangan gerilya di berbagai wilayah negara itu, ia mestilah mengambil tanggungjawab atas kelakuan serdadu-serdadunya. (end)

     
 

Home | News - Letters | InternetCoverage | Timeline | List of Incidents | Info on Refugee | Acheh-History | Politics | Business-Ethic | Opinions | Civil Movements | Arts & Humanities | Spirituality | Quotable Quotes | Photo Gallery | Video Gallery | Well-Being | Scholarships | WorldWide media | Malay Edition | Achenese Edition


Archive | AT Inc. & Disclaimer | Testimonials | Write Us

Copyright © 1999 - 2002 The Acheh Times, powered by Hivelocity.