| |
|
ATEE
KEUMEUNG JITOT, ayah gueklik-klik guelakee tulong. Mak pih jicok. Leueh nyan, hana geuwoe le (Ayah diambil tentara.
Ketika hendak dibakar, Ayah menjerit-jerit minta tolong. Mak
pun diambil. Setelah itu, mereka tak pulang lagi),"
ungkap Yusnidar (5 tahun), ketika ditanya dimana ayah dan
ibunya sekarang. Tak ada tangis. Nidar mengucapkan itu nyaris
tanpa emosi.
Sebaliknya, justru orang-orang yang mendengarkan ucapan dan kesaksiannya, merasa sesak di dada dan tak tahan untuk tidak menangis. Siapa pun pasti tergugah ingin melindungi kedua
bocah korban konflik tersebut.
Nidar juga tak sembarangan bercerita. Gadis cilik hitam manis
ini seolah sangat paham bahwa cerita itu adalah rahasia yang
harus disimpan sepanjang hidupnya. Situasi lingkungan di
desanya membuat Nidar mengerti, bahwa jika kesaksiannya itu
didengar oleh "sembarang orang" salah-salah bakal
mengancam keselamatan dia dan adiknya.
Wartawati Kontras pun butuh waktu dua hari untuk mendekati
Yusnidar dan adiknya, M Rizal, yang kini dititip di kantor
Forum Peduli HAM (FPHAM) Acheh Timur di Langsa. Kedua anak desa
di perkebunan karet milik PT Bumi Flora, Idi Rayeuk, ini
diantar oleh kakeknya, Ismail Machmud (72), penduduk Desa
Teupin Breuh, Simpang Ulim, Acheh Timur.
Ismail menceritakan, kedua orangtua Nidar, Syamaun (43) dan
Rubiah (24), pada 17 Januari 2001 lalu diculik bersama
beberapa warga Bumi Flora lainnya yang dituduh telah memberi
makan kelompok GAM.
Awalnya, kata Ismail, anaknya Syamaun yang bekerja penderes
karet di perkebunan PT Bumi Flora itu bersama tujuh laki-laki
warga desa setempat dikumpulkan dan diperiksa oleh kawanan
penculik yang berposko di kawasan Julok.
Menurut keterangan warga kampung dan saksi mata yang dikutip Ismail, para penculik itu kemudian menyiram bensin ke kumpulan
orang-orang yang sedang diperiksa. Lima di antaranya terkena
siraman bensin, termasuk Syamaun yang paling parah.
Selanjutnya yang lainnya menyalakan api, dan langsung membakar
hidup-hidup para korban. Empat korban yang terparah dijilat
api sempat menjerit-jerit minta tolong. Istri Syamaun, Rubiah,
dan beberapa warga kampung mencoba menolong mereka, namun
dicegah oleh kawanan penculik itu.
Selanjutnya para korban dibawa dengan truk yang dipakai para penculik. Menurut para penculik, mereka hendak dibawa ke
Puskesmas untuk mendapat pengobatan. Rubiah mendesak penculik
agar ia diikutkan mendampingi suaminya yang memang paling
parah di antara kelima korban.
Namun, belakangan, korban pembakaran yang diantar penculik dan
kemudian diopname di Puskesmas Idi Rayeuk ternyata hanya empat orang. Akan halnya Syamaun dan istrinya Rubiah tak kunjung
diantar ke Puskesmas, dan tak diketahui lagi nasib mereka.
Tanggal 28 Januari 2001, Ismail Machmud mendapat informasi
dari beberapa petani sawit/getah bahwa anak dan menantunya;
Syamaun dan Rubiah, telah dibawa ke sebuah camp di kawasan
Alue Ie Mirah. Berdasarkan informasi itu Ismail meyakini
Syamaun dan Rubiah telah meninggal.
Ismail kemudian meminta bantuan FPHAM untuk mengevakuasi
jenazah kedua korban. Tanggal 1 Januari 2001 kemarin, Ketua
FPHAM Acheh Timur, Mohd Yusuf Puteh, menyurati Kapolres Acheh
Timur AKB Pol Drs Abdullah Hayati sekaligus
meminta izin tertulis dari Kapolres untuk melakukan evakuasi
jenazah di kawasan Alue Ie Mirah.
Namun, sumber-sumber di FPHAM setempat menyebutkan hingga 5
Januari kemarin, surat izin Kapolres yang sangat diharapkan mereka, tak kunjung diterima FPHAM. Karenanya, FPHAM dan pihak
keluarga korban belum berani naik ke Alue
Ie Mirah untuk mengevakuasi jenazah. Mereka tetap menunggu dan
berharap kebaikan hati Abdullah Hayati.
Sementara itu, sejak ditinggal orangtuanya,
Yusnidar dan M Rizal nampak begitu kehilangan. Nidar sendiri
nampak terpukul, namun senantiasa berusaha tampil tegar. Akan
halnya adiknya M Rizal kerap menangis sepanjang malam
menanyakan Ayah dan Maknya.
Ismail yang sudah tua renta dan hidup dalam kemiskinan itu
mengaku tak sanggup memikirkan dan berbuat banyak mengatasi
penderitaan kedua cucunya tersebut. Akhirnya, ia bersedia
menitipkan Nidar dan Rizal di Kantor FP HAM Acheh Timur untuk
diasuh oleh para relawan.
Selama beberapa hari ini, kedua bocah malang ini mendapat
tumpahan sayang dan perhatian dari para relawan FPHAM dan LSM
lain di Langsa. Oleh para relawan, Nidar dan M Rizal dibelikan
baju baru dan sepatu baru. Rambut Nidar yang sebelumnya
panjang dan lecek, kemudian dipangkas pendek hingga nampak
bersih dan ceria.
Namun, hatinya memang tetap mungkin bisa seceria dulu lagi.
Dalam tanya jawab dengan Kontras, kentara sekali Nidar masih
menyimpan luka, bahkan mungkin juga ada sejumput dendam yang
sulit dihapuskan. Berikut petikannya (diterjemahkan ke malay
Indonesia -red):
Nidar tahu nggak, dimana Ayah dan Mak sekarang?
Ayah diambil oleh .... dan dikumpulkan sama orang-orang kampung. Waktu Ayah hendak dibakar, Ayah menjerit-jerit keras sekali. Ayah minta tolong. Ayah dibakar sampai hitam...
Mak bagaimana?
Mak diambil juga. Mak dibawa entah ke mana. Setelah itu, tidak
pernah pulang
lagi.
Kenapa Ayah dan Mak mereka ambil?
Nggak tahu. Mereka jahat sekali.
Orang yang ambil Ayah dan Mak sebesar mana?
Badannya kecil-kecil. Tapi bawa senjata panjang-panjang.
Mereka menarik-narik Ayah. Mereka membakar Ayah...
Nidar sedih?
(Ia mengangguk).
Mau nggak Nidar dan adik tinggal di kantor FPHAM?
(Ia mengangguk lagi).
Nidar mau sekolah nggak nanti?
Iya, mau. Kalau sudah besar nanti, saya mau usir mereka itu.
Mereka jahat sekali (wajahnya terkesan menahan emosi).
|