AT Home Archive Egl Archive Bhs Write us      
 
 
 

   
 
Fragile archipelago
Indonesia secrete
   

 

 

Ayah Dibakar, Ibu Diculik: Nidar dan Rizal Menyimpan Dendam
 
KONTRAS, 13 FEBRUARI, 2001 —— Tatapan TATAPAN mata kedua bocah ini lepas, kosong, tapi juga terkesan penuh selidik dan curiga terhadap orang-orang yang masih asing bagi mereka. Tak gampang merangkul ataupun berbicara dengan kedua bocah malang yang diduga kuat telah yatim piatu itu. Rentetan adegan kekerasan yang disaksikan dan derita yang mereka alami, demikian berat. Rasanya tak patut dipikul oleh anak usia 5 tahun dan 3 tahun itu.

 

  THE ACHEH TIMES
   

 
     
   

ATEE KEUMEUNG JITOT, ayah gueklik-klik guelakee tulong. Mak pih jicok. Leueh nyan, hana geuwoe le (Ayah diambil tentara. Ketika hendak dibakar, Ayah menjerit-jerit minta tolong. Mak pun diambil. Setelah itu, mereka tak pulang lagi)," ungkap Yusnidar (5 tahun), ketika ditanya dimana ayah dan ibunya sekarang. Tak ada tangis. Nidar mengucapkan itu nyaris tanpa emosi.

Sebaliknya, justru orang-orang yang mendengarkan ucapan dan kesaksiannya, merasa sesak di dada dan tak tahan untuk tidak menangis. Siapa pun pasti tergugah ingin melindungi kedua bocah korban konflik tersebut.

Nidar juga tak sembarangan bercerita. Gadis cilik hitam manis ini seolah sangat paham bahwa cerita itu adalah rahasia yang harus disimpan sepanjang hidupnya. Situasi lingkungan di desanya membuat Nidar mengerti, bahwa jika kesaksiannya itu didengar oleh "sembarang orang" salah-salah bakal mengancam keselamatan dia dan adiknya.

Wartawati Kontras pun butuh waktu dua hari untuk mendekati Yusnidar dan adiknya, M Rizal, yang kini dititip di kantor Forum Peduli HAM (FPHAM) Acheh Timur di Langsa. Kedua anak desa di perkebunan karet milik PT Bumi Flora, Idi Rayeuk, ini diantar oleh kakeknya, Ismail Machmud (72), penduduk Desa Teupin Breuh, Simpang Ulim, Acheh Timur.

Ismail menceritakan, kedua orangtua Nidar, Syamaun (43) dan Rubiah (24), pada 17 Januari 2001 lalu diculik bersama beberapa warga Bumi Flora lainnya yang dituduh telah memberi makan kelompok GAM.

Awalnya, kata Ismail, anaknya Syamaun yang bekerja penderes karet di perkebunan PT Bumi Flora itu bersama tujuh laki-laki warga desa setempat dikumpulkan dan diperiksa oleh kawanan penculik yang berposko di kawasan Julok.

Menurut keterangan warga kampung dan saksi mata yang dikutip Ismail, para penculik itu kemudian menyiram bensin ke kumpulan orang-orang yang sedang diperiksa. Lima di antaranya terkena siraman bensin, termasuk Syamaun yang paling parah. Selanjutnya yang lainnya menyalakan api, dan langsung membakar hidup-hidup para korban. Empat korban yang terparah dijilat api sempat menjerit-jerit minta tolong. Istri Syamaun, Rubiah, dan beberapa warga kampung mencoba menolong mereka, namun dicegah oleh kawanan penculik itu.

Selanjutnya para korban dibawa dengan truk yang dipakai para penculik. Menurut para penculik, mereka hendak dibawa ke Puskesmas untuk mendapat pengobatan. Rubiah mendesak penculik agar ia diikutkan mendampingi suaminya yang memang paling parah di antara kelima korban.

Namun, belakangan, korban pembakaran yang diantar penculik dan kemudian diopname di Puskesmas Idi Rayeuk ternyata hanya empat orang. Akan halnya Syamaun dan istrinya Rubiah tak kunjung diantar ke Puskesmas, dan tak diketahui lagi nasib mereka.

Tanggal 28 Januari 2001, Ismail Machmud mendapat informasi dari beberapa petani sawit/getah bahwa anak dan menantunya; Syamaun dan Rubiah, telah dibawa ke sebuah camp di kawasan Alue Ie Mirah. Berdasarkan informasi itu Ismail meyakini Syamaun dan Rubiah telah meninggal.

Ismail kemudian meminta bantuan FPHAM untuk mengevakuasi jenazah kedua korban. Tanggal 1 Januari 2001 kemarin, Ketua FPHAM Acheh Timur, Mohd Yusuf Puteh, menyurati Kapolres Acheh Timur AKB Pol Drs Abdullah Hayati sekaligus
meminta izin tertulis dari Kapolres untuk melakukan evakuasi jenazah di kawasan Alue Ie Mirah.

Namun, sumber-sumber di FPHAM setempat menyebutkan hingga 5 Januari kemarin, surat izin Kapolres yang sangat diharapkan mereka, tak kunjung diterima FPHAM. Karenanya, FPHAM dan pihak keluarga korban belum berani naik ke Alue
Ie Mirah untuk mengevakuasi jenazah. Mereka tetap menunggu dan berharap kebaikan hati Abdullah Hayati.

Sementara itu, sejak ditinggal orangtuanya, Yusnidar dan M Rizal nampak begitu kehilangan. Nidar sendiri nampak terpukul, namun senantiasa berusaha tampil tegar. Akan halnya adiknya M Rizal kerap menangis sepanjang malam menanyakan Ayah dan Maknya.

Ismail yang sudah tua renta dan hidup dalam kemiskinan itu mengaku tak sanggup memikirkan dan berbuat banyak mengatasi penderitaan kedua cucunya tersebut. Akhirnya, ia bersedia menitipkan Nidar dan Rizal di Kantor FP HAM Acheh Timur untuk diasuh oleh para relawan.

Selama beberapa hari ini, kedua bocah malang ini mendapat tumpahan sayang dan perhatian dari para relawan FPHAM dan LSM lain di Langsa. Oleh para relawan, Nidar dan M Rizal dibelikan baju baru dan sepatu baru. Rambut Nidar yang sebelumnya panjang dan lecek, kemudian dipangkas pendek hingga nampak bersih dan ceria.

Namun, hatinya memang tetap mungkin bisa seceria dulu lagi. Dalam tanya jawab dengan Kontras, kentara sekali Nidar masih menyimpan luka, bahkan mungkin juga ada sejumput dendam yang sulit dihapuskan. Berikut petikannya (diterjemahkan ke malay Indonesia -red):

Nidar tahu nggak, dimana Ayah dan Mak sekarang?

Ayah diambil oleh .... dan dikumpulkan sama orang-orang kampung. Waktu Ayah hendak dibakar, Ayah menjerit-jerit keras sekali. Ayah minta tolong. Ayah dibakar sampai hitam...

Mak bagaimana?

Mak diambil juga. Mak dibawa entah ke mana. Setelah itu, tidak pernah pulang
lagi.

Kenapa Ayah dan Mak mereka ambil?

Nggak tahu. Mereka jahat sekali.

Orang yang ambil Ayah dan Mak sebesar mana?

Badannya kecil-kecil. Tapi bawa senjata panjang-panjang. Mereka menarik-narik Ayah. Mereka membakar Ayah...

Nidar sedih?

(Ia mengangguk).

Mau nggak Nidar dan adik tinggal di kantor FPHAM?

(Ia mengangguk lagi).

Nidar mau sekolah nggak nanti?

Iya, mau. Kalau sudah besar nanti, saya mau usir mereka itu. Mereka jahat sekali (wajahnya terkesan menahan emosi).

   
 
Related stories
Not Worth Saving
In depth
Post you ideas
Achehnese Struggle Monument
 

Home | News - Letters | InternetCoverage | Timeline | List of Incidents | Info on Refugee | Acheh-History | Politics | Business-Ethic | Opinions | Civil Movements | Arts & Humanities | Spirituality | Quotable Quotes | Photo Gallery | Video Gallery | Well-Being | Scholarships | WorldWide media | Malay Edition | Achenese Edition


Archive | AT Inc. & Disclaimer | Testimonials | Write Us

Copyright © 1999 - 2002 The Acheh Times, powered by Hivelocity.