| Sejak
proklamasi kemerdekaan RI, Jakarta gemar mengumbar janji palsu
dan sekaligus menindas dengan kekerasan rakyat Acheh dan
menguras kekayaan alamnya secara sistematis. Ribuan makam yang
tersebar di mana-mana menjadi saksi bisu atas semua itu.
Acheh
adalah etalase kekerasan yang mencoret arang di wajah kita.
Kebiadaban yang pernah dikutuk dunia masih berlangsung di sini.
Sebaliknya, penguasa RI di Jakarta heran atas reaksi itu. Bagi
mereka, kematian rakyat Acheh wajar-wajar saja. Dalam kultur
politik warisan Kerajaan Mataram, pembantaian adalah lumrah
untuk menciptakan harmoni. |
|
nilah
tahapan genting bagi rakyat Acheh. Suatu
persiapan moral untuk menghadapi hal paling buruk dalam
kehidupan. "Lebih baik syahid daripada hidup terhina di
bawah kezaliman kaphee. Pahala mujahid adalah di surga,"
bunyi kalimat yang berulang kali terdengar.
Firasat rakyat Acheh sudah
mengindikasikan apa yang akan terjadi, khususnya setelah sejak
tahun lalu banyak anggota DPR mendesak pemerintah agar
memberlakukan darurat sipil atau militer di Acheh. Sedang,
menyangkut terbunuhnya rakyat Acheh yang berlanjut hingga saat
ini, tidak satu pun wakil rakyat itu peduli, kecuali dapat
dimanfaatkan bagi kepentingan manuver politik sesaat. Padahal,
korban itu juga termasuk wakil rakyat, bahkan anggota Pansus
Acheh, yakni Teungku Nasharuddin Daud.
Apa yang dikhawatirkan rakyat
Acheh ternyata mulai terlihat. Pemerintah RI memberi lampu
kuning bagi operasi militer. Rincian detailnya sedang
disiapkan. Ribuan personel militer bisa dipastikan akan
memasuki Acheh, kendati Kapuspen TNI mengatakan hanya 16 kompi
saat ini sedang dilatih di Batujajar. Namun, semua orang tahu
"panjar"-nya saja tiga batalyon pasukan tempur sudah
dikirim baru-baru ini. Mereka akan mengamankan proyek vital di
sana, termasuk ladang gas ExxonMobil.
Presiden Abdurrahman Wahid
(Gus Dur) mengatakan, operasi militer ini terbatas sifatnya.
Ia juga menjamin tidak ada militer yang masuk ke
kampung-kampung. Tetapi, semua orang Acheh tahu bahwa janji
hanyalah rangkaian kata. Seperti kata-kata lainnya, tidak
dapat dijadikan pegangan. Apalagi musuh Gus Dur yang menyemut
saat ini, tentulah akan memanfaatkan peluang emas ini.
"Jakarta adalah gudang
kebohongan. Kita tidak boleh percaya pada ucapan mereka.
Sejarah sudah membuktikannya," ujar Teungku Abdullah
Syafii, Panglima Perang AGAM (Angkatan Gerakan Acheh Merdeka,
sayap militer GAM) Komando Pusat di Tiro. Sejak proklamasi
kemerdekaan RI, Jakarta gemar mengumbar janji palsu dan
sekaligus menindas dengan kekerasan rakyat Acheh dan menguras
kekayaan alamnya secara sistematis. Ribuan makam yang tersebar
di mana-mana menjadi saksi bisu atas semua itu.
Jika diandaikan Gus Dur tulus
mengutarakan janji itu, rakyat Acheh di pelosok pun tahu bahwa
Jakarta telah kehilangan kendali atas pasukannya, baik TNI
maupun Brimob Polri, yang ditempatkan di sini. Sekitar 2.500
personel yang datang ke Acheh untuk pengamanan presiden ketika
berkunjung ke sana belum lama ini, adalah salah satu contoh.
Hingga saat ini pasukan itu
masih tetap bercokol di Acheh, yang menurut Jakarta untuk tugas
bakti sosial. Tetapi, rakyat di pelosok menyaksikan mereka
datang ke kampung-kampung, melakukan sweeping disertai
penangkapan dan penganiayaan penduduk yang dicurigai. Lantas
apa makna semua ini bagi sekitar empat juta jiwa penduduk
Acheh?
ACEH sungguh-sungguh berada di
tubir jurang. Ribuan rakyat Acheh bergelimpangan menjadi mayat
pada periode diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM,
tahun 1989-1998). Ribuan lainnya ditangkap, dianiaya, dan
diperkosa tanpa sebab jelas. "Acheh menjadi gudang anak
yatim," ujar Ketua Komnas HAM, Baharuddin Lopa, waktu itu.
(Catatan: kini Lopa menjadi Menteri Kehakiman dan HAM)
|
|
|
| iNTERNET:
GUARDIAN, LONDON |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Di Serambi Mekah ini, para
psikopat berkeliaran di mana-mana dengan senjata siap
diledakkan.
Itu pula sebabnya, tahun 1999
jajaran Korem Lilawangsa menampilkan ''kekuatannya'' dengan
membantai Teungku Bantaqiah bersama lebih dari 50 santrinya di
pesantren yang lokasinya terpencil di Pegunungan Bukit Barisan,
Acheh Barat. Dua santri yang lolos dari maut, menyampaikan
berita ini secara estafet ke sebuah LSM di Lhok Seumawe.
Seandainya kedua santri ini
juga tewas, maka lenyapnya Tengku Bantaqiah dan santrinya akan
disebut sebagai sedang berzikir di hutan. Letkol Sudjono,
Komandan Intel Korem setempat, yang memimpin penyerbuan ke
tempat Tengku Bantaqiah, raib hingga sekarang. Sedang Komandan
Korem yang memberi perintah operasi, tidak tersentuh hukum,
malah naik pangkat.
Dengan bergulirnya tuntutan
atas pengadilan HAM, orangtua murid berlinang air mata
menyaksikan lebih 180 gedung sekolah musnah jadi arang,
setelah menyaksikan gedung-gedung sekolah sengaja dibakar.
Ribuan anak didik kehilangan kesempatan belajar. GAM menyebut
tindakan aparat itu sebagai bagian dari upaya sistematis
memusnahkan bangsa Acheh.
Selain sekolah, gedung-gedung
pemerintah juga ikut dibakar. Termasuk lembaga pemasyarakatan
dan kantor pengadilan negeri. Peristiwa seperti ini tidak
hanya terjadi di kota-kota kecamatan, tetapi menjalar hingga
ke Banda Acheh, ibu kota provinsi. Alhasil sekarang Acheh
menjadi negeri tidak bertuan.
Rakyat Acheh menghadapi dilema
mirip buah simalakama. Berpihak pada GAM mati ibu, tidak
berpihak mati ayah. Atau seperti ungkapan banyak pengungsi di
Bereuneun, Pidie, beberapa waktu lalu, rakyat yang tidak
berbuat apa-apa juga dijagal. Sepeda motor dan harta benda
dijarah aparat keamanan saat berpatroli ke desa-desa. Setiap
pascakontak senjata dengan GAM selalu saja ada penduduk sipil
yang dieksekusi. Belum lagi jika mereka membakari rumah
penduduk tanpa alasan jelas.
Polda Acheh yang bertanggung
jawab atas masalah keamanan di daerahnya, berulang kali
membantah tindakan pembakaran dan penjarahan oleh aparatnya.
Begitu pula dalam eksekusi kilat. Tetapi, mereka mengelak
ketika LSM mengajukan saksi mata. Sebaliknya Polda malah
menuding GAM yang melakukannya untuk menjelek-jelekkan Brimob.
Dengan kata lain, sesungguhnya
Acheh dengan atau tanpa operasi militer tetap saja sama. Di
sini hukum telah mati suri. Nyawa manusia tidak lebih berharga
ketimbang seekor kambing. Teror menyebar di mana-mana,
mengintip nyawa siapa saja. Baik itu ketika berjalan di pasar,
mengajar di sekolah, berkumpul dengan keluarga, atau sedang
shalat. Pembawa maut itu sendiri tidak pandang bulu. Seperti
halnya dialami Rektor IAIN, yang ditembak hingga tewas di
rumahnya.
Acheh adalah etalase kekerasan
yang mencoret arang di wajah kita. Kebiadaban yang pernah
dikutuk dunia masih berlangsung di sini. Sebaliknya, penguasa
RI di Jakarta heran atas reaksi itu. Bagi mereka, kematian
rakyat Acheh wajar-wajar saja. Dalam kultur politik warisan
Kerajaan Mataram, pembantaian adalah lumrah untuk menciptakan
harmoni.
Persoalannya, rakyat Acheh
tidak pernah paham persepsi demikian. Mereka tidak tahu apa
itu tepo sliro dan tanggap sasmito, elemen
penting dalam epistemologi Jawa. Suatu hal yang bisa membuat
hidup berkepribadian ganda. Menyatakan sesuatu yang ada tetapi
tidak pernah ada, dan sebaliknya. Menyatakan saudara sebangsa,
sambil menebar maut. Menyatakan jeda kemanusiaan, sambil
membakari rumah-rumah penduduk. Begitu pula Operasi Cinta
Meunasah.
"KINI kami sibuk memuat
hewan-hewan denda penduduk. Sungguh-sungguh hal yang memalukan
kita. Gubernur memerintahkan supaya rumah-rumah besar di
kampung-kampung dibakar jika penduduk tidak membayar denda.
Tadinya ia menginginkan supaya penduduknya ditembak mati saja,
tetapi perintah itu telah kami protes...,"
Itulah bagian dari kutipan
surat seorang opsir muda Belanda yang cemerlang, ditujukan
kepada istrinya yang berada jauh di Belanda. Ditulis di sebuah
bivak di kawasan Hutan Tamun tanggal 25 April 1897. Sebagai
Kepala Staf Divisi XII Marsose, opsir yang bernama Van Daalen
itu sedang memimpin pasukannya mengejar Teuku Umar di Acheh
Barat.
Sebagai bagian dari pasukan
elite Belanda, Van Daalen terpaksa melaksanakan perintah yang
mirip perampokan itu. Di kantung-kantung gerilya, mereka
membakar rumah-rumah penduduk, memusnahkan tanaman di kebun,
agar penduduk tidak punya tenaga lagi untuk melakukan
perlawanan.
Penduduk kampung atau pemukim
yang terbukti memberi tempat berlindung bagi pejuang Acheh,
dikenakan denda mencekik leher. Kenegerian Lhong, masih di
Acheh Barat, misalnya, didenda 30.000 gulden karena Teuku Umar
sempat bersembunyi di sana. Suatu angka yang mustahil bisa
dipenuhi penduduk miskin di kenegerian itu. Ini artinya, rumah
mereka akan dimusnakan berikut tanaman di ladang. Sedang
ternak disita.
Namun, Van Daalen yang kelak
menjadi gubernur, malah mendapat julukan si jagal yang kejam.
Ia adalah pejabat yang terbengis selama penjajahan kolonial di
Acheh. Van Daalen menggerakkan segala mesin perang, karena
Kerajaan Belanda memerintahkannya untuk memenangkan perang ini
secepat mungkin. Belanda baru kemudian sadar mereka
terperangkap dalam perang berkepanjangan, yang nyaris membuat
bangkrut kas Hindia Belanda.
Kekerasan dihadapi dengan
kekerasan, itulah motto Van Daalen. Perlawanan Acheh hanya akan
berakhir jika dihadapi dengan superioritas militer.
Mayat-mayat kemudian bergelimpangan di sana-sini. Benar bahwa
tahun 1913, atau setelah 40 tahun perang, Acheh berhasil
ditaklukkan, tetapi bukan berarti perang sudah usai.
Kurang lebih 10.000 prajurit
Belanda tewas dalam Perang Acheh. Belanda mengerahkan kekuatan
maksimum. Invasi pertama saja tiba dengan 5.000 personel,
suatu jumlah yang amat besar untuk masa itu. Bagi Belanda,
Perang Acheh merupakan pengalaman pahit. Itu sebabnya hanya
Acheh, di luar Pulau Sabang, satu-satunya daerah yang tidak
dijamah Belanda ketika kembali ke Indonesia dengan menumpang
Sekutu seusai PD II.
Lantas, apakah kita akan
mengulangi perang seperti ini, terhadap mereka yang kita sebut
saudara sebangsa? Jawabnya tentu sudah pasti bahwa sejak tahun
1953, saat deklarasi DI/ TII kita sudah melakukan hal itu.
Penguasa di Jakarta tidak pernah paham langgam dialog yang
hidup dalam budaya masyarakat luar Jawa.
Tuntutan merdeka, misalnya,
segera ditanggapi dengan pengiriman pasukan dari Jawa. Tidak
pernah diusut apa penyebabnya, dan kemudian dicari
pemecahannya. Jakarta hanya mengenal pendekatan kekuasaan,
persis seperti dilakukan kolonial Belanda di masa silam. Hal
ini pula yang membuat penduduk di luar Jawa merasa tertekan,
bahkan tertindas di masa Orde Baru. Lantas, apakah keliru jika
mereka tidak melihat alternatif lain bagi perbaikan nasib,
kecuali merdeka?
Jika Jakarta tidak menghendaki
ini, maka seyogianya berkaca diri dan berupaya membuat rakyat
di Acheh merasa nyaman dan menikmati kemajuan, serta kebebasan.
Bukan menjadi tawanan di negeri sendiri. Kekerasan tidak akan
pernah berhasil menyelesaikan masalah. Bahkan melahirkan
bentuk kekerasan baru dan berbagai bentuk kejahatan. Itulah
hukum besi kekerasan yang terjadi di Srilangka, Kongo,
Afghanistan, Sierra Leone, Filipina, dan Perang Balkan.
|