|
edatangan ke 20 istri pejabat tersebut cukup
mengagetkan pihak KBRI, sebab tidak jelas studi
banding macam apa misi mereka tersebut. Sewaktu ditanya, salah seorang staff KBRI Bangkok berujar,"
kayaknya ibu-ibu itu mau studi banding antara harga
sepatu di Indonesia dan harga sepatu di Bangkok'.
Entah karena kelebihan uang karena mendapat cipratan
dana NAD, para ibu-ibu tersebut dengan vulgar
berbelanja jutaan rupiah. Uniknya, tatkala pihak
travel mengajak ibu-ibu tersebut ke kota tua Ayuttheya (sebuah kota peninggalan Thailand lama yang pernah
menjadi ibukota, dan menjadi tujuan turis) para ibu
menjawab dengan tegas, "Eh.. Ngapain kesana, mau
lihat batu? Kami ke Bangkok mau belanja kok, ama studi
banding..."
Sungguh berdarah mata dan hati orang Acheh, disaat
negara mereka ditimpa musibah, disaaat ratusan orang
Acheh terlantar dipanjara di Myanmar tidak cukup uang
untuk dievakuasi, saat ratusan ribu bahkan jutaan
orang Acheh melarat, para ibu-ibu yang kaya ini
memadati area pusat penjualan permata dan berlian
Bangkok yang dimiliki oleh salah satu putri kerajaan
Thailand. Dan tanpa malu-malu salah seorang ibu
menyuruh para guide yang mengantar mereka sebagai
penterjemah untuk tidak dekat-dekat mereka, takut
transaksi jutaan rupiah dilihat dengan aneh oleh
penterjemah mereka.
Pejabat macam mana yang mempunyai istri yang seperti ini? Yang tidak mempunyai sama sekali sense of crisis.
Akankah Acheh aman dan damai andai dipegang oleh
pejabat khianat dan keluarga mereka yang korup?
Akankan NAD semakin membuat mereka melupakan rakyat
Acheh yang melarat, yang juga akibat buah tangan meraka? (PJ-arna)
Acheh Revolutionary News Agency (editor@arna.tv)
|