Hasan Wirajuda,
wakil Republik Indonesia dan Dr Zaini Abdullah, wakil Acheh
Merdeka menandatangani perjanjian Jeda Kemanusian yang
disaksikan dan difasilitasi oleh Henry Dunant Center (HDC)
pada Mai 2000 di Genewa, Swiss.
NEW
YORK, 18 Oktober 2001(AT) —— Forum
International Untuk Acheh mengutuk sekeras-kerasnya pembunuhan
oleh aparat keamanan Indonesia, Teungku Zulfani M. Rani,
anggota perunding GAM yang tergabung dalam Komite
Bersama Modalitas Keamanan (KBMK). Komite ini adalah bagian
daripada persetujuan Jeda Kemanusiaan yang telah
ditandatangani di Jenewa oleh kedua belah pihak dengan mediasi
oleh Henri Dunant Center dari Swiss. Kedua belah pihak
telah memberi jaminan tertulis yang disaksikan oleh HDC
untuk keselamatan para peserta perundingan, baik dalam
masa perundingan maupun sesudahnya.
THE
ACHEH TIMES
Pembunuhan Tengku Zulfani, yang merupakan satu lagi
tindakan tidak beradab pihak aparat keamanan Indonesia mestilah dikutuk
sekeras- kerasnya oleh
masyarakat internasional. IFA merasa bahwa Henri
Dunant Center sepatutnya berbuat lebih banyak untuk
menjamin keselamatan para perunding.
ihak pemerintah Indonesia
telah melanggar janji tersebut dengan ditangkapnya oleh POLRI 6 orang perunding GAM di Hotel Kuala Tripa, Banda Acheh, dimana kedua belah pihak berunding untuk pelaksanaan perjanjian Jeda tersebut. Lima dari ke enam perunding GAM berkenaan telah dibebaskan dengan
bersyarat sedangkan seorang lagi telah dipindahkan ke sebuah penjara di Jakarta dan dilaporkan telah
dianiaya secara tidak berperikemanusiaan.
Pembunuhan Tengku Zulfani, yang merupakan satu lagi
tindakan tidak beradab pihak aparat keamanan
Indonesia mestilah dikutuk sekeras-kerasnya oleh
masyarakat internasional. IFA merasa bahwa Henri
Dunant Center sepatutnya berbuat lebih banyak untuk
menjamin keselamatan para perunding. Dengan tiadanya
jaminan tersebut, pihak yang tidak bersenjata
masyarakat sipil Acheh mungkin sekali merasa tidak
berani untuk ikut serta dalam dialog-dialog damai
yang bermakna di masa hadapan, walhal penglibatan
mereka adalah merupakan syarat penting bagi setiap
perundingan yang demokratis dan adil di masa
hadapan.
IFA baru saja mengakhiri dengan suksesnya Dialog
Persaudaraan Acheh di Washington dalam mana para
perserta yang mewakili satu spectrum warga sipil
masyarakat Acheh telah bersetuju untuk mengusahakan
diadakannya dialog yang berlanjutan antara ke dua
belah pihak yang sedang berperang. Cara yang begitu
damai dalam usaha mencari penyelesaian konflik di
Acheh ini tidak akan mungkin diadakan sekiranya
pihak-pihak yang berperang tidak menghrmati
sekurang-kurangnya taraf paling minimun norma-norma
manusia beradab.