| 'Pengepungan
itu juga berarti peluang pelanggaran kesepakatan yang mungkin akan dilakukan RI
lebih besar dibandingkan GAM. Sebab seperti sekarang, belum disepakati saja
sudah digagalkan sendiri oleh TNI.'
'Sekarang
manakala GAM sudah sangat terorganisir, kuat dan didukung oleh rakyat Acheh serta
dukungan internasional untuk perundingan.' |
|
rilaku
kekerasan tersebut juga bisa menciptakan
persoalan baru dalam kasus Acheh, sebab warga sipil terus menjadi pengungsi dan
korban kekerasan militer. Bahkan sangat disayangkan, sebab pengepungan itu
terjadi ketika pihak GAM sudah berinisiatif memajukan perdamaian dengan
melakukan gencatan senjata sepihak dan ini terjadi di bulan ramadhan. Padahal
akan sangat baik jika pemerintah RI melakukan hal yang sama dan tidak perlu
mengobarkan perang serta kekerasan terus menerus terhadap Acheh dan GAM seperti
sekarang ini. Pengepungan itu juga berarti peluang pelanggaran kesepakatan yang
mungkin akan dilakukan RI lebih besar dibandingkan GAM. Sebab seperti sekarang,
belum disepakati saja sudah digagalkan sendiri oleh TNI.
Persoalan bahwa pemerintah Acheh Merdeka di pengasingan belum mau
menandatangani perjanjian damai sebenarnya tidak perlu menyebabkan munculnya
agresi dan pengepungan militer itu. Yang paling penting sebelum berunding atau
menandatangani hasil kesepakatan adalah memiliki niat baik atau inisiatif
menghentikan kekerasan. Serta adanya political will yang serius dan tidak
pura-pura. Namun hal ini belum ditunjukkan oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah
terkesan hanya pura-pura saja, bahkan menggagalkan sendiri proses perdamaian
bagi Acheh. Kalau seandainya pemerintah tidak pura-pura tentu akan memerintahkan
para pasukannya yang ada di Acheh untuk memulai perdamaian, atau paling tidak,
memiliki niat baik dulu untuk mewujudkan perdamaian, bukan malah menyerang dan
mengepung GAM.
|
|

|
Menyerang dan mengepung GAM sebenarnya tidak berbeda dengan memerangi rakyat
Acheh. Sebab, di samping GAM sebagai rakyat Acheh, faktanya bahwa yang paling
banyak menjadi korban adalah rakyat sipil. Rakyat Acheh selalu dikorbankan hanya
karena alasan meminimalisir GAM. Karena itu sangat irrasional kalau ada pejabat
sipil dan militer/polisi RI yang mengatakan bahwa pengepungan itu untuk
meminimalisir pengaruh GAM, untuk pengamanan rakyat dan sebagainya. Itu omong
kosong belaka, seolah-olah rakyat merasa aman dan damai dengan adanya
pengepungan itu. Padahal faktanya sipil yang menjadi korban paling banyak serta
kehidupan rakyat terganggu total.
Juga tidak mungkin GAM bisa dieleminasi dengan pengepungan itu. Selama DOM
saja yang lamanya 10 tahun lebih pemerintah tidak mampu melumpuhkan GAM. Apalagi
sekarang manakala GAM sudah sangat terorganisir, kuat dan didukung oleh rakyat
Acheh serta dukungan internasional untuk perundingan. Karena itu kalau memang
pemerintah serius mewujudkan perdamaian di Acheh maka cara-cara dan
pikiran-pikiran klasik yang mengorbankan rakyat Acheh harus segera ditinggalkan.
Sebaiknya pemerintah memilih jalan damai sebagaimana telah diinisiasikan oleh
GAM melalui gencatan senjata sepihak. Rakyat Acheh dan internasional juga
menginginkan cara-cara damai. Bukan mengobarkan perang terus menerus.
Alamat kantor SIRA, JL. T. Panglima Polem No. 13 Po Box. 8119 Komplek BP 4
Lama Banda Acheh, SUMATRA, Telp/fax: 0651 24043 - E mail:
sirareferendum@hotmail.com |