| 'Tidak ada
pembahasan mengenai penerimaan paket otonomi khusus oleh PNA. Perjuangan
Pemerintah Negara Acheh bersama TNA adalah untuk merebut kembali kemerdekaan
Bangsa Acheh dari tangan penjajah.' |
|
enlu
RI Hasan Wirayudha juga telah mengancam akan
melakukan operasi militer all-out di Acheh jika dialog tanggal 9 Desember 2002
tidak jadi. Pemerintah dan Tentara Negara Acheh ingin meluruskan berita yang
tidak benar dan intimidasi tersebut.
Akan diadakan suatu meeting atau dialog di Jenewa pada tanggal 9 Desember 20 02
untuk membahas dan mencari titik temu terhadap perbedaan prinsipil dalam
beberapa fasal draft Penghentian Permusuhan. Apabila titik temu telah didapat,
maka diharapkan penandatanganan naskah Penghentian Permusuhan dapat dilakukan,
baik pada tanggal tersebut atau segera setelah tanggal 9 Desember.Tidak ada
pembahasan mengenai penerimaan paket otonomi khusus oleh PNA. Perjuangan
Pemerintah Negara Acheh bersama TNA adalah untuk merebut kembali kemerdekaan
Bangsa Acheh dari tangan penjajah. PNA mengharapkan RI tetap berpegang teguh
secara konsekuen pada hasil Perundingan Jenewa tanggal 10 Mei 2002, dimana kedua
belah pihak setuju menggunakan issue UU-NAD sebagai Starting Point (langkah mula)
untuk dapat masuk ke
perundingan berikutnya.
|
|

|
Tidak benar apabila PNA meneken perjanjian damai dengan RI, maka TNA harus
menyerahkan senjatanya. Senjata yang ada dalam tangan TNA adalah milik rakyat
Acheh dan tidak akan diserahkan kepada siapa-siapa. Apabila persetujuan damai
telah dicapai, maka TNI/Polri dan TNA sepakat tidak lagi menggunakan senjata
untuk menyelesaikan sengketa. Untuk itu diperlukan monitoring yang ketat dan
sanksi yang berat bagi siapapun yang melanggar.
Ancaman serangan militer besar-besaran oleh RI ke Acheh yang disuarakan oleh
Menlu RI adalah sesuatu yang tidak pantas diucapkan di tengah-tengah proses
mencari jalan damai. Ancaman seperti itu hanya akan menambah militansi rakyat
Acheh terhadap penjajah Pejabat RI sepatutnya memahami bahwa Rakyat Acheh
memiliki keunikan, yaitu tidak boleh digertak. Orang-orang yang sudah terbiasa
dengan gaya hidup menggertak untuk mencapai tujuannya sebaiknya tidak dilibatkan
dalam penuntasan konflik Acheh.
TNI sedang melancarkan operasi militer ofensif terbesar dalam sejarah Perang
Kemerdekaan Acheh, yaitu yang sekarang telah memasuki hari ke-22 di rawa-rawa
Chot Trieng. Telah kami ingatkan bahwa pemerintah RI akan mendapat aib internasional jika meneruskan operasi ini yang telah melibatkan artileri dan pesawat
pembom.
Menurut analisis intelijen TNA, sekarang TNI sudah mulai menyadari
ketidakmampuannya menerobos ke benteng pertahanan TNA, namun belum menemukan
cara untuk mundur dari arena pengepungan tanpa kehilangan muka. Mungkin sekali,
petinggi TNI akan menggunakan issue “menghormati” Dialog Jenewa 9 Desember 2002
sebagai alasan untuk mundur dari pengepungan yang telah menewaskan ribuan satwa
liar penghuni rawa Chot Trieng.
TNI tidak perlu mencari-cari alasan untuk mundur dari Chot Trieng. Kalau mau
mundur, mundurlah sekarang juga tanpa syarat dan tanpa segala alasan; atau kalau
mau menyerang, lakukanlah segera biar rakyat Acheh dan dunia tahu pasukan siapa
yang lebih lihai. Intelijen TNA menduga, kekalahan TNI di Chot Trieng akan
berbuntut dengan pensiun dini beberapa perwira tinggi dan menengah TNI, terutama
yang berkaitan dengan fungsi intelijen.
|