|
rilakunya
ini telah menampakkan wajah asli Pangdam
tersebut kepada seluruh rakyat Acheh, karena dia terlalu benci dengan
orang-orang yang membela Acheh dan anti penindasan seperti Imam Syujak, Ghazali
Abbas dan Muhammad Nazar misalnya. Sekaligus Pangdam IM ini masih takut dengan
kebenaran dan kebaikan. Demikian pula Jali mengatakan ada aktivis yang sudah
membelot kepadanya, berarti dia sudah tertipu dengan bayang-bayang aktivis.
Padahal kalau
Pangdam IM berpikiran jernih, rasional dan waras maka tidak perlu menyeruduk
secara liar terhadap orang-orang yang membela Acheh. Tidak perlu mempraktekkan
hukum rimba dalam masalah Acheh, walaupun orang-orang itu dianggap sebagai
musuhnya. Jadi Pangdam IM ini tidak memenuhi standar prajurit yang beradab.
Jali juga
harus tahu bahwa dalam Islam itu terlalu banyak nilai-nilai politik dan moral.
Tidak ada dikotomi dalam Islam. Karenanya aneh sikap Pangdam yang menyatakan
SIRA menjual agama. Malah sejauh pantauan SIRA yang menjual agama dan kata damai
itu justru TNI, sedangkan tangan TNI penuh lumuran darah rakyat Acheh. Tetapi
bagaimana TNI berani bilang damai dan agama dalam keadaan membunuh.
Terlalu naοf
kalau Pangdam IM mengatakan bahwa orang-orang yang diseruduknya itu sebagai
orang-orang yang mencari keuntungan. Ini pemutarbalikan fakta. Lebih baik kalau
Jali mengakui saja bahwa gara-gara ada konflik Acheh dia sudah jadi Jenderal,
karena dia mau melakukan apapun yang diinstruksi oleh tuannya terhadap rakyat
Acheh walaupun tangannya harus berlumuran darah segar. Dia juga sudah bisa
berbisnis dengan mulus, walaupun tidak secara langsung untuk memperkaya diri.
Alhasil Jali sendiri dan patner-patnernya yang memanfaatkan konflik Acheh.
Mungkin kalau
tidak ada konflik Acheh, Jali akan pensiun dengan pangkat kolonel serta tidak
punya kekuatan apa-apa karena senjatanya dicabut. Serta dia juga tidak bisa
mendapatkan proyek seperti sekarang. Bahkan akan dicemooh oleh rakyat Acheh,
karena pernah memerintah membunuh dan melakukan kekerasan.
Kalau Jali mau
jujur, silakan turun ke lapangan, siapa yang mencari keuntungan. Pasti dia akan
melihat anak buahnya sendiri yang sibuk dengan pencarian kekayaan, termasuk dia
sendiri.
Demikian juga
masalah pelanggaran HAM dan kekerasan yang dilakukan oleh TNI, SIRA berbicara
berdasarkan fakta dan turun langsung ke lapangan. Tetapi SIRA tidak mungkin
mengumumkan kepada Jali. Kalau pelaksanaan investigasi diumumkan, Komnas HAM
saja bisa dihambat apalagi SIRA yang dimusuhi oleh pemerintah. Pangdam tidak
perlu berkilah, sampai sekarang terus terjadi pembakaran ratusan rumah penduduk
seperti di Seunagan Raya dan Acheh Selatan, serta ribuan pengungsi. Dan ini
terjadi ketika TNI meningkatkan pengepungan terhadap GAM. Bahkan kalau
diinvestigasi benar-benar, kekerasan di Acheh lebih meningkat selama adanya
Kodam IM dari sebelumnya.
Secretariat SIRA: JL. T. Panglima
Polem No. 13 Komplek BP 4 Lama Banda Acheh, SUMATRA; Telp/fax: 0651 24043; HP:
0811684608 |