| 'TNI akan harus keluar dengan wajah tertunduk dari Chot Trieng bila terus
melakukan pengepungan.'
'M. Kasim Muslem, seorang petani, ditahan,
dipukul dan ditendang' |
|
ntuk
menyelamatkan muka TNI, kami telah menarik/menyusupkan keluar separuh dari
kekuatan kami dari rawa-rawa Chot Trieng, jadi tidak ada lagi alasan bagi TNI
untuk takut menyerang posisi TNA dalam rawa tersebut. Sekarang kekuatan TNI dan
TNA sudah berimbang, yaitu 4000 TNI dan 150 TNA.Semenjak awal pengepungan,
pihak intelijen TNA telah memperingatkan petinggi TNI bahwa RI akan menuai malu
dan TNI akan harus keluar dengan wajah tertunduk dari Chot Trieng bila terus
melakukan pengepungan. Intel kami telah menelpon, atau melalui orang lain
memberitahu Brigjen. Bambang Dharmono dan Kolonel Azmyn Nasution mengenai hal
tersebut, tetapi mereka tidak merespon dan kelihatannya justru mempersiapkan
agendanya sendiri perihal pengepungan tersebut.
Intel TNA yang menyusup ke dalam posisi TNI di garis depan dan sempat
mewawancarai prajurit TNI memperoleh kesan bahwa prajurit TNI di lapangan berada
dalam kondisi moril yang memprihatinkan. Mereka merasa Petinggi-petinggi TNI di
Jakarta dan di Acheh sedang "bermain" dengan skenario pengepungan untuk
kepentingan pribadi sementara prajurit lapangan dikorbankan. Kami juga
memperoleh data bahwa TNI telah mulai menarik pasukannya secara rahasia dari
garis depan, namun diberitakan telah diperintahkan maju masuk ke dalam rawa,
padahal itu bohong.
Sekali lagi, Panglima TNA menyerukan agar TNI segera mundur secara baik-baik,
tanpa syarat, dan tanpa terlalu banyak propaganda. Kami paham bahwa TNI sedang
serba salah: mundur mendapat malu, maju mendapat bala. Namun mundur sekarang dan
patuh pada seruan kami adalah jalan yang terbaik untuk menghindari malu yang
lebih besar di masa yang akan datang.
Bila TNI memenuhi saran kami untuk mundur, diharap tidak menggunakan issue
rencana Dialog Jenewa tanggal 9 Desember sebagai alasan mundur,karena
sesungguhnya tidak ada kaitan antara kedua hal tersebut walaupun RI telah dengan
ceroboh menggunakan issue itu untuk menekan ASNLF, namun tidak berhasil.
Amnesty International:
Penyeksaan & 'kehilangan'
petani
M. Kasim Muslem dan Nurdin
Ilyas ditahan oleh tentera di Blang Mangat Sub-district, Daerah Acheh pada 31
October dan 18 November. M. Kasim Muslem tidak dapat dijumpa sehingga sekarang.
Penyeksaan oleh tentera adalah biasa di Acheh, dan AI bimbang akan keselamatan
dua orang ini.
Pada 31 Oktober, 8 ahli Infantori Battalion (TNI BKO Yonif/125) dari kem tentera
Chot Rambong dilaporkan datang ke Pasar Peuntet di Blang Mangat Sub-district,
Daerah Utara Acheh. Pihak tentera menembak ke arah udara. M. Kasim Muslem,
seorang petani, ditahan, dipukul dan ditendang; sebuah beg plastik diletak atas
mukanya dan dia dibawa oleh tentera atas motosikal. Dia tidak dapat dijumpa
sehingga sekarang. Mengikut laporan dari sebuah organisasi hak asasi tempatan
pihak berkuasa polis dan tentera telah menafikan mereka telah menahannya.
Nurdin Iilyas, seorang petani dari Syamtalira Bayu Sub-district, Daerah Utara
Acheh, dilaporkan telah ditahan oleh tentera dari Infantri Battalion dan Kostrad
semasa berjalan ke pasar Peuntet. Dia dipercayai ditahan di kem tentera Chot
Matahee di Blang Mangat Sub-district dimana tentera Kostrad ditempatkan. Dia
tidak mempunyai akses kepada peguam, perubatan atau keluarganya.
Untuk informasi selanjutnyan tentang orang hilang, silakan hubungi:
Amnesty International di Malaysia;
43A, Jalan SS15/4, 47500 Subang Jaya Selangor, Malaysia; Tel/Fax: 03-56375164;
E-mail:
amnesty@tm.net.my
Laporan GAM dilaporkan
oleh
Tgk. Sofyan Dawod,
Jurubicara TNA/Komando
Militer Pusat.
|