AT Halaman Muka Arsip, versi Inggris Arsip, versi Malay Surati Kami

 

 
 
 
 

Indo's troubled history

Fragile archipelago

Indonesia secrete
 
The Acheh Times is best viewed by:
Pengepungan Chot Trieng; GAM minta TNI mundur
 
GAM menegaskan menolak keras penyerahan senjata sepihak, karena hal ini sama sekali tidak logis. Saat sekarang adalah masa menjelang pemupukan rasa saling percaya; GAM jelas belum dapat mempercayai RI, terbukti pada saat GAM melakukan gencatan senjata sepihak, ternyata TNI mengambil kesempatan menyerang.
 
Penyeksaan dan 'kehilangan' petani
 
27 Nov, 2002 —— (GAM & AI) Komando militer pusat TNA menurunkan laporan terakhir tentang pengepungan oleh TNI hari ini telah memasuki hari ke-30. Jenderal TNI di Jakarta baru saja menggelar meeting untuk mencari jalan dan alasan mundur dari pengepungan di rawa-rawa Chot Trieng tanpa harus kehilangan muka, karena berkesimpulan tidak akan mampu menembus pertahanan TNA yang hanya dipertahankan oleh beberapa ratus perajurit. Amnesty International melapurkan tentang kehilangan orang petani di Acheh Utara belakangan ini.

 

 
 

 
     
'TNI akan harus keluar dengan wajah tertunduk dari Chot Trieng bila terus melakukan pengepungan.'

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

'M. Kasim Muslem, seorang petani, ditahan, dipukul dan ditendang'

  ntuk menyelamatkan muka TNI, kami telah menarik/menyusupkan keluar separuh dari kekuatan kami dari rawa-rawa Chot Trieng, jadi tidak ada lagi alasan bagi TNI untuk takut menyerang posisi TNA dalam rawa tersebut. Sekarang kekuatan TNI dan TNA sudah berimbang, yaitu 4000 TNI dan 150 TNA.

Semenjak awal pengepungan, pihak intelijen TNA telah memperingatkan petinggi TNI bahwa RI akan menuai malu dan TNI akan harus keluar dengan wajah tertunduk dari Chot Trieng bila terus melakukan pengepungan. Intel kami telah menelpon, atau melalui orang lain memberitahu Brigjen. Bambang Dharmono dan Kolonel Azmyn Nasution mengenai hal tersebut, tetapi mereka tidak merespon dan kelihatannya justru mempersiapkan agendanya sendiri perihal pengepungan tersebut.

Intel TNA yang menyusup ke dalam posisi TNI di garis depan dan sempat mewawancarai prajurit TNI memperoleh kesan bahwa prajurit TNI di lapangan berada dalam kondisi moril yang memprihatinkan. Mereka merasa Petinggi-petinggi TNI di Jakarta dan di Acheh sedang "bermain" dengan skenario pengepungan untuk kepentingan pribadi sementara prajurit lapangan dikorbankan. Kami juga memperoleh data bahwa TNI telah mulai menarik pasukannya secara rahasia dari garis depan, namun diberitakan telah diperintahkan maju masuk ke dalam rawa, padahal itu bohong.

Sekali lagi, Panglima TNA menyerukan agar TNI segera mundur secara baik-baik, tanpa syarat, dan tanpa terlalu banyak propaganda. Kami paham bahwa TNI sedang serba salah: mundur mendapat malu, maju mendapat bala. Namun mundur sekarang dan patuh pada seruan kami adalah jalan yang terbaik untuk menghindari malu yang lebih besar di masa yang akan datang.

Bila TNI memenuhi saran kami untuk mundur, diharap tidak menggunakan issue rencana Dialog Jenewa tanggal 9 Desember sebagai alasan mundur,karena sesungguhnya tidak ada kaitan antara kedua hal tersebut walaupun RI telah dengan ceroboh menggunakan issue itu untuk menekan ASNLF, namun tidak berhasil.

Amnesty International:
Penyeksaan & 'kehilangan' petani

M. Kasim Muslem dan Nurdin Ilyas ditahan oleh tentera di Blang Mangat Sub-district, Daerah Acheh pada 31 October dan 18 November. M. Kasim Muslem tidak dapat dijumpa sehingga sekarang. Penyeksaan oleh tentera adalah biasa di Acheh, dan AI bimbang akan keselamatan dua orang ini.

Pada 31 Oktober, 8 ahli Infantori Battalion (TNI BKO Yonif/125) dari kem tentera Chot Rambong dilaporkan datang ke Pasar Peuntet di Blang Mangat Sub-district, Daerah Utara Acheh. Pihak tentera menembak ke arah udara.  M. Kasim Muslem, seorang petani, ditahan, dipukul dan ditendang; sebuah beg plastik diletak atas mukanya dan dia dibawa oleh tentera atas motosikal. Dia tidak dapat dijumpa sehingga sekarang. Mengikut laporan dari sebuah organisasi hak asasi tempatan pihak berkuasa polis dan tentera telah menafikan mereka telah menahannya.

Nurdin Iilyas, seorang petani dari Syamtalira Bayu Sub-district, Daerah Utara Acheh, dilaporkan telah ditahan oleh tentera dari Infantri Battalion dan Kostrad semasa berjalan ke pasar Peuntet. Dia dipercayai ditahan di kem tentera Chot Matahee di Blang Mangat Sub-district dimana tentera Kostrad ditempatkan. Dia tidak mempunyai akses kepada peguam, perubatan atau keluarganya.

Untuk informasi selanjutnyan tentang orang hilang, silakan hubungi: Amnesty International di Malaysia; 43A, Jalan SS15/4, 47500 Subang Jaya Selangor, Malaysia; Tel/Fax: 03-56375164; E-mail: amnesty@tm.net.my

Laporan GAM dilaporkan oleh Tgk. Sofyan Dawod, Jurubicara TNA/Komando Militer Pusat.

     
   
BACA BERITA LALU
Index berita 2001
Photo Acheh, Masaru Goto
HOME, Halaman Muka/Malay edition
 

Home | News - Letters | InternetCoverage | Timeline | List of Incidents | Info on Refugee | Acheh-History | Politics | Business-Ethic | Opinions | Civil Movements | Arts & Humanities | Spirituality | Quotable Quotes | Photo Gallery | Video Gallery | Well-Being | Scholarships | WorldWide media | Malay Edition | Achenese Edition


Archive | AT Inc. & Disclaimer | Testimonials | Write Us

Copyright © 1999 - 2002 The Acheh Times, powered by Hivelocity.