AT Halaman Muka Arsip, versi Inggris Arsip, versi Malay Surati Kami

 

 
 
 
 

Indo's troubled history

Fragile archipelago

Indonesia secrete
 
The Acheh Times is best viewed by:
Kondisi Muhammad bin Isa (14 th), pelajar kelas IV SD, paha kanan patah tulang bekas tembakan. Korban adalah warga Gampong Teupin gajah-Kec. Jamboe Aye Acheh Utara. Tanggal: 24 Okt. 02, pukul 11 siang pasca kontak senjata di Gampong Teupin Keube—Jamboe Aye, seorang pelajar yang sedang pulang dari sawah dihentikan oleh sweeping TNI untuk mencari anggota GAM yang melintas. Dari penagkapan ini korban lansung di tembak hingga mengenai kaki kiri.
Rekomendasi & Petisi Perdamaian Acheh
Menentukan nasib sendiri secara damai dan demokratis harus dikedepankan
 
30 Nov, 2002 (SIRA) —— Menyikapi situasi politik, keamanan dan kemanusiaan yang semakin krusial di Acheh khususnya menjelang rencana perundingan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah negara Acheh (GAM), seperti masih berlanjutnya pengepungan-pengepungan dan operasi-operasi militer oleh TNI/Polri terhadap pasukan Tentara Negara Acheh (TNA) yang sedang melakukan gencatan senjata sepihak sebagai langkah awal menghentikan permusuhan dan membangun rasa saling percaya terhadap pemerintah Indonesia, sedangkan pada saat yang tidak berbeda pengepungan-pengepungan dan operasi-operasi militer oleh TNI/Polri ini juga selalu membawa konsekwensi buruk terhadap rakyat sipil seperti terjadinya pembakaran rumah-rumah penduduk, penangkapan, penculikan, pengungsian, intimidasi dan berbagai pelanggaran hak-hak asasi manusia lainnya, maka kami masyarakat sipil seluruh Acheh menyampaikan rekomendasi dan petisi.
 

 

Oleh SIRA, Pusat Acheh  
REFERENDUM CIVIL SOCIETY
 
 

 
     
'Menolak solusi-solusi politik lain seperti otonomi khusus yang tidak melibatkan partisipasi rakyat Acheh melalui jajak pendapat atau referendum.'

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

'Sumber konflik di Acheh bukan pada persoalan ekonomi, keuangan dan agama, melainkan pada keinginan serta kebutuhan rakyat Acheh terhadap kebebasan menentukan nasib sendiri.'

  dapun rekomendasi dan petisi, tertanggal 28 November 2002, yang dimaksud antara lain: mendukung perundingan damai antara pemerintah Indonesia dan GAM yang dimediasi oleh Henry Dunant Centre (HDC), tetapi kami mendorong kedua belah pihak bahwa sebelum melakukan perundingan dan penandatanganan kesepakatan agar dapat membangun rasa saling percaya secara lebih konkrit misalya menghentikan langkah-langkah militeristik seperti penyerangan, pengepungan dan sebagainya terhadap salah satu pihak atau saling menyerang, saling mengepung dan tindakan-tindakan militeristik lainnya.

Kami mendukung dan mendorong diwujudkannya gencatan senjata berdasarkan prinsip-prinsip kejujuran, keikhlasan dan persamaan antara pemerintah Indonesia dan GAM yang dimediasi oleh Henry Dunant Centre (HDC) dan dimonitor oleh tim internasional yang lebih luas. Karena itu gencatan senjata ini mesti dilakukan dalam keadaan bersama-sama, dalam format dan kesepakatan bersama. Kami setuju bahwa kedua belah pihak tetap boleh memegang senjata yang mereka miliki, tetapi kedua belah pihak mesti menjamin untuk tidak menggunakan senjata menembak orang-orang yang dianggap sebagai lawan mereka; atau melakukan segala bentuk kekerasan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai lawan mereka dan masyarakat sipil. Maka apabila salah satu pihak melanggar, atau kedua belah pihak melanggar maka mereka harus diberikan sanksi. Mendukung diwujudkannya perdamaian di Acheh, tetapi kami menekankan bahwa perdamaian komprehensif di Acheh akan terwujud apabila kedua belah pihak memberikan kebebasan penentuan nasib sendiri melalui jajak pendapat atau referendum damai kepada seluruh rakyat Acheh. Kami menolak solusi-solusi politik lain seperti otonomi khusus yang tidak melibatkan partisipasi rakyat Acheh melalui jajak pendapat atau referendum.

Kami mendorong semua masyarakat internasional, termasuk pemerintah Jepang, Amerika Serikat dan Bank Dunia selaku pelaksana acara "Preparatory Conference for Peace and Reconstruction in Acheh" di Tokyo – Jepang, serta seluruh peserta dari berbagai negara lainnya agar lebih memperhatikan keinginan rakyat Acheh untuk menentukan nasib sendiri. Tanpa kebebasan penentuan nasib sendiri, penegakan hak-hak asasi manusia dan keadilan social universal maka pembangunan kembali ekonomi (economic recovery) di Acheh tidak mungkin bisa dilakukan. Sebab sumber konflik di Acheh bukan pada persoalan ekonomi, keuangan dan agama, melainkan pada keinginan serta kebutuhan rakyat Acheh terhadap kebebasan menentukan nasib sendiri secara damai melalui mekanisme yang demokratis seperti jajak pendapat atau referendum.

Sedangkan masalah pembangunan kembali ekonomi di Acheh oleh masyarakat internasional mesti dilakukan atas kesepakatan pemerintah Indonesia dan GAM. Kami meminta HDC dan tim penasehat internasionalnya agar benar-benar menjadi mediator yang netral dan baik sehingga bisa melakukan mediasi antara pemerintah Indonesia dan GAM berdasarkan prinsip-prinsip persamaan, kejujuran dan keikhlasan.

Rekomendasi & Petisi Perdamaian Acheh kepada:

  1. Pemerintah Indonesia melalui kantor Menkopolkam, Jakarta
  2. Pemerintah Negara Acheh melalui Menteri Luar Negeri Dr. Zaini Abdullah, Stockholm, Swedia
  3. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa, New York, USA
  4. Direktur Henry Dunant Centre (HDC) Martin Griffiths dan Seluruh Tim Penasehat Internasionalnya, Jenewa, Swiss
  5. Pimpinan Bank Dunia melalui Mr. T. Kohno, Staff Ahli Politik Kedutaan Besar Jepang di Jakarta serta Negara-negara Lainnya Sebagai Pelaksana acara "Preparatory Conference for Peace and Reconstruction in Acheh, Tokyo melalui Kedutaan- kedutaan Besarnya di Jakarta
  6. Para Duta Besar Negara-negara asing, Jakarta

Disampaikan oleh Lembaga-Lembaga Masyarakat Sipil Seluruh Acheh:

SENTRAL INFORMASI REFERENDUM ACHEH (SIRA); KOALISI AKSI REFORMASI MAHASISWA ACHEH (KARMA); KOALISI GERAKAN MAHASISWA DAN PEMUDA ACHEH BARAT (KAGEMPAR); CEASEFIRE WATCH (CFW) ACHEH; FRONT AKSI REFORMASI MAHASISWA ACHEH (FARMIDIA); FRONT MAHASISWA DAN PEMUDA ACHEH JEUMPA (JEUMPA MIRAH); MAHASISWA PEMUDA PEJUANG RAKYAT ACHEH (MAPPRA); KOALISI AKSI MAHASISWA PIDIE (KAMPI); PERSATUAN TIGA RODA SELURUH ACHEH (PERTISA); GERAKAN INTELEKTUAL SELURUH ACHEH (GISA); FORUM AKADEMISI ACHEH (FAA); Himpunan Aktivis Anti Militer (HANTAM); LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM MAHYAL ULUM ACHEH BESAR; FORUM KOETARADJA (FORKOET); LOYALITAS AKSI MASYARAKAT PEREMPUAN (LAMPUAN) ACHEH; SOLIDARITAS PEREMPUAN UNTUK RAKYAT ACHEH (SPURA); YAYASAN SRIKANDI ACHEH (YSA); PENYAMBUNG ASPIRASI RAKYAT ACHEH UNTUK KEADILAN (PERAK); SOLIDARITAS MAHASISWI ISLAM PEDULI ACHEH (SMIPA); CENTER FOR THE STUDY AND ADVOCACY FOR THE REGION (CeSAR); JARINGAN ADVOKASI MAHASISWA ACHEH UNTUK KEADILAN (JAMAK); SOLIDARITAS KORBAN ACHEH RAYEUK (SKAR); FORUM AKSI INTELEKTUAL KAMPUS DARUSSALAM (FAIKADA); FRONT PASEE RAYA (FPR); HIMPUNAN MAHASISWA ACHEH SELATAN (HAMAS); FORUM MAHASISWA DAN PEMUDA ANTI KEKERASAN (FOMAPAK); Pengembangan Aktivitas Sosio Ekonomi Korban Konflik Acheh (PASKA)

     
    Kontak Sekretariat Bersama: JL. T. Panglima Polem No 13 Po Box 8119 Komplek BP 4 Lama Banda Acheh, SUMATRA; Telp/fax: 0651 24043; HP: 0811684608 (Muhammad Nazar); eMail: peace_foraceh@yahoo.com
     

 

   
BACA BERITA LALU
Index berita 2001
Photo Acheh, Masaru Goto
HOME, Halaman Muka/Malay edition
 

Home | News - Letters | InternetCoverage | Timeline | List of Incidents | Info on Refugee | Acheh-History | Politics | Business-Ethic | Opinions | Civil Movements | Arts & Humanities | Spirituality | Quotable Quotes | Photo Gallery | Video Gallery | Well-Being | Scholarships | WorldWide media | Malay Edition | Achenese Edition


Archive | AT Inc. & Disclaimer | Testimonials | Write Us

Copyright © 1999 - 2002 The Acheh Times, powered by Hivelocity.