AT Halaman Muka Arsip, versi Inggris Arsip, versi Malay Surati Kami

 

 
 
 
 

Indo's troubled history

Fragile archipelago

Indonesia secrete
 
The Acheh Times is best viewed by:
Pasca penandatanganan perjanjian Geneva
Megawati alias Megaproblem? Mayat ditemukan dan serangkaian intimidasi; dan  tutunan Achenese civil society
 
18 Des, 2002 —— Mengamati perilaku politik yang dilakukan oleh pihak RI melalui kepanjangan tangannya di tanah air, pasca penanda-tanganan perjanjian penghentian permusuhan, terlihat ada sesuatu niat jahat RI dibalik perjanjian damai tersebut terutama di saat-saat sebagian besar pasukan TNA sudah ditarik kembali ke barak atau dibaur kembali ke masyarakat.

 

Oleh Zakki ‘Abdul Latif  
 
 

 
     
'menampilkan tokoh-tokoh 'pembanyol' dari kalangan eksekutif, legislatif dan yudikatif mirip seperti cerita wayang dengan tokoh Semar, Petruk dan Gareng.'  

erlihat dengan jelas bahwa pihak RI saat ini tengah memainkan sandiwara ala kampanye "Pemilu RI" di tanah air kita dimana salah satu dari dua kontestan Pemilunya (dalam hal ini RI dan GAM) yang lebih besar yaitu RI (seperti GOLKAR pada era Suharto) melakukan "pencurian start" kampanye dengan memanfaatkan media informasi berupa Surat Kabar, Televisi dan Radio yang sibuk menayangkan dan menampilkan informasi tentang kemajuan pembangunan, bantuan-bantuan, dukungan kepada masyarakat secara luas terutama yang membutuhkan bantuan finansial, semuanya seakan-akan merupakan andil dan hasil kerja dari salah satu partai politik tersebut.

Diskusi-diskusi dan wawancara-wawancara pun digelar di televisi-televisi swasta yang menampilkan tokoh-tokoh "pembanyol" dari kalangan eksekutif, legislatif dan yudikatif mirip seperti cerita wayang dengan tokoh "Semar", "Petruk" dan "Gareng" yang semuanya memancing dan mengarahkan perhatian masyarakat kepada partai politik yang sedang dijagokan.

Perangkat-perangkat pemerintah dari mulai Gubernur, Bupati, Camat, Lurah hingga Kepala Lingkungan mereka aktifkan dan gunakan sebagai alat untuk membujuk masyarakat dan kalau tidak berhasil malah mengancam masyarakat melalui para cuak dan kaki tangannya agar mau memihak untuk mencoblos tanda gambar partai politik yang mereka agungkan tersebut. Orang-orang yang dinilai dan terkesan melawan partai tersebut, mereka hilangkan secara paksa melalui para penembak misterius.

   
 

 

'Penyelesaian konflik dan penegakan perdamaian secara komprehensif hanya terwujud apabila semua pihak menghargai keinginan rakyat Acheh untuk menentukan nasib sendiri.'

  Statement Bersama

Achenese Civil Socity Community mengelurakan statement menegaskan bahwa keberhasilan penandatanganan kesepakatan penghentian permusuhan antara pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Acheh Merdeka (GAM) di Jenewa pada 9 Desember 2002 harus dilihat dan dihargai sebagai salah satu proses penting serta langkah awal menuju penyelesaian konflik antara Acheh dan pemerintah Indonesia secara komprehensif. Sedangkan penyelesaian konflik dan penegakan perdamaian secara komprehensif hanya terwujud apabila semua pihak menghargai keinginan rakyat Acheh untuk menentukan nasib sendiri.

BACA sumber LAIN

Berita/Link Non-Affiliasi

  Sembilan prajurit linud 100/PS pernah tugas di Acheh dovonis  
  GAM: Perlu pihak netral teliti kejahatan perang di Acheh  
  Indonesia dan GAM siap tandatangani perjanjian damai  
  RI-GAM akan tandatangani kesepakatan damai 9 Desember  

 

Kontras dan sejumlah LSM minta pemerintah dan GAM gencatan senjata

 

Dikatakan agar pemerintah republik Indonesia dapat menghargai keinginan rakyat Acheh untuk menentukan masa depan mereka serta status politik Acheh melalui mekanisme yang damai dan demokratis, di mana setiap rakyat Acheh harus diberikan hak dan kebebasan memilih status politik Acheh masa depan melalui mekanisme yang demokratis seperti referendum atau jajak pendapat di bawah pengawasan masyarakat internasional. Penyelesaian konflik Acheh tidak akan dapat dilakukan secara militer atau dengan mendistribusikan kekuasaan serta dana kepada pemerintah local Indonesia yang ada di Acheh. Karena konflik di Acheh bukan disebabkan oleh persoalan-persoalan ekonomi, agama dan militer, melainkan suatu konflik politik yang disebabkan oleh benturan dua nasionalisme (nationalism clash) dan keinginan penentuan nasib sendiri rakyat Acheh.

Hal lain disebutkan pemerintah republik Indonesia dapat mengontrol seluruh kekuatan TNI/Polri yang ada di Acheh untuk tidak lagi melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap kesepakatan penghentian permusuhan maupun kekerasan-kekerasan terhadap masyarakat sipil dan fasilitas-fasilitas publik. Pasca penandatanganan kesepakatn penghentian permusuhan, pemerintah republik Indonesia dan seluruh komponennya baik TNI/Polri maupun sipil juga harus memiliki visi damai yang sama, sehingga tidak lagi melahirkan kebijakan-kebijakan baru yang ambivalent dan kontraproduktif maupun kebijakan sepihak dalam pemyelesaian konflik Acheh

Achenese Civil Socity Community juga meminta pemerintah republik Indonesia dapat membebaskan tanpa syarat seluruh tahanan dan nara pidana politik atau masyarakat yang ditahan karena ada hubungannya dengan konflik Acheh.

   
 

 

 

 

 

 

'Dalam pemaksaan terhadap masyarakat yang sedang mengungsi pasukan TNI juga melepaskan tembakan secara membabibuta.'

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

'.., ditemukan menjadi mayat, masing-masing 5 mayat di kawasan Kampong Babah Ngom, Setia Bhakti, Acheh Barat dan 3 mayat di kawasan rawa-rawa.'

 

Mayat ditemukan & serangkaian intimidasi

Tanggal, 09 Desember 2002
Takengon, Acheh Tengah
Pihak Indonesian selalu mengangkat wacana-wacana yang dapat membingungkan masyarakat Acheh baik pra maupun pasca penandatangan kesepakatan perdamaian di Jenewa. Hal ini, dapat dibuktikan dengan penempelan dan penyebaran selebaran di sejumlah Kecamatan di Acheh Tengah yang intinya dinyatakan bahwa Tgk. Fauzan Azimah (Juru Bicara TNA yang merangkap sebagai Wakil Panglima TNA Wilajah Linge) telah menyerahkan diri kepada Indonesia. Selain itu, Indonesia juga menulis dalam selebaran tersebut, dia (Fauzan Azimah-red) menyerukan masyarakat setempat, terutama pasukan Teuntara Neugara Atjeh (TNA) untuk menyerahkan diri dan kembali kepangkuan pertiwi Indonesia.

Selebaran ini disebarkan pada 09 Desember 2002. Edaran ini kemudian dicabut kembali oleh pasukan TNI/ Polri yang bertugas di Acheh Tengah pada 11 Desember 2002. Sementara di perbatasan KM 35 jalan Bireuen-Takengon kembali terjadinya pemerasan terhadap pemakai jalan sejak 13 Desember 2002. Mengenai dengan posko pasukan TNI di kawasan Acheh Tengah, Gayo Luwes dan Acheh Tenggara tercatat tidak ada yang resmi, melaikan terbanyak posko yang illegal.

Tanggal, 10 Desember 2002
Bakongan, Acheh Selatan
Pasukan TNI yang berposko di kawasan Buket Gadeng, Bakongan, Acheh Selatan melakukan penangkapan terhadap dua (2) keluarga masyarakat Kampong Ujong Gunong Rayeuek, Bakongan, Acheh Selatan, yaitu:
1. Dalami (40) sebagai Kepala Keluarga,
2. Maimunah (30) sebagai Ibu Rumah Tangga,
3. Mukhlis Nur (14),
4. Khairun Nisah (12),
5. Raudhatun Aidafiah (8), dan
6. Hasnur Khatimah (6), ke empat ini berstatus sebagai anaknya. Satu keluarga lagi yang ditangkap pasukan TNI di bawah pimpinan Komandan Pos (DAN POS) Buket Gadeng, Bakongan, Acheh Selatan Heryanto adalah:
1. Baharuddin (36), sebagai Kepala Keluarga,
2. Nur Syarifah (25), sebagai Ibu Rumah Tangga, dan
3. Rudhiati (3 th) anaknya.
Penangkapan terjadi berdasarkan perintah dari Komandan Kompi (DANKI) Abdul Ghafur. Sementara rumah kedua kepala keluarga (KK) ini dihancurkan pasukan TNI.

Tanggal, 10 Desember 2002
Tapaktuan, Acheh Selatan
Pasukan TNI BKO Rantau Salam, Bakongan, Acheh Selatan melakukan sweeping di ruas jalan protokol  Tapaktuan-Singkel dengan menggunakan baju hitam dan loreng serta mengenakan atribut pasukan TNA (Teuntara Neugara Atjeh) yang juga mengibarkan bendera GAM (Gerakan Acheh Merdeka). Dalam kegiatan yang melanggar dengan hasil penandatanganan ini pasukan TNI melakukan pemerasan terhadap pemakai jalan ini.

Tanggal, 10 Desember 2002
Sawang dan Sama Dua, Acheh Selatan
Pasukan TNI/ Polri yang bertugas di kawasan Sawang dan Sama Dua, Acheh Selatan memaksa masyarakat setempat mulai pukul 08. 00 wa sampai pagi. Sedangkan masyarakat juga dilarang untuk melakukan kegiatan malam seperti biasa di luar rumah masing-masing. Sementara keadaan di kawasan tersebut semakin tidak kondusif dengan tingkah dan kegiatan pasukan RI ini di lapangan meski pun keduabelah pihak telah untuk menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap masyarakat di Acheh.

Tanggal, 10 Desember 2002
Bayeuen, Acheh Timur
Usman dan kawan-kawan pulang ke rumah masing-masing di kawasan Bireuem Bayeuen, Acheh Timur. Tidak lama di rumah mereka (Usman, Cs) dikepung pasukan TNI, namun Usman, Cs berhasil meloloskan diri dengan selamat.

Tanggal, 10 Desember 2002
Bayeuen, Acheh Timur
Salah seorang Karyawan PT. Gajah Meunta (Perkebunan Sawit), Bayeuen, Acheh Timur ditangkap pasukan TNI (Kopassus) BKO Keude Sungai Raya, Bayeuen, Acheh Timur. Korban yang juga warga Kampong Seuneubok Pase, Bayeuen, Acheh Timur dan beridentitas Mukhtar Daud (40) ditembak hingga tewas pada pukul 17. 00 wa dan mayatnya diantar ke rumah duka.

Tanggal, 12 Desember 2002
Seuruwey, Acheh Timur
Seorang masyarakat sipil ditangkap pasukan TNI di rumahnya kawasan Kampong Seuruwey, Acheh Timur. Korban yang kemudian dieksekusi pada 13 Desember 2002  bernama Saiful Bahri Agam.

Tanggal, 13-14 Desember 2002
Peusangan, Bireuen
Operasi militer terus dilancarkan oleh pasukan TNI di lapangan
kendatipun penandatangan “peace agreement” telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Operasi hari ini sangat meresahkan masyarakat setempat, sasaran perkampungan yang dilancarkan operasi militer terutama di kawasan Peusangan, Bireuen yang meliputi Kampong Seuneubok Acheh yang juga dilakukannya pemerasan terhadap masyarakat setempat. Di kawasan lain juga ditempat posko-posko baru pasukan TNI seperti kawasan, Kampong Alue Punoe yang diambil alih di dua titik yaitu Buket Pang Wardi bagian Timur dan Buket Ayah Sen.

Kemudian, di kampong Blang Geulanggang tepatnya di kawasan Buket Pang Wardi bagian Barat. Di sini juga mereka (TNI) mendirikan benteng dengan ukuran 4 x 4 m, berdasarkan salah satu sumber yang dilaporkan oleh masyarakat yang telah melihat kegiatan pasukan RI tersebut. Sementara di kawasan Kampong Alue Udeueng Baroh juga ditempatkan dua titik posko baru pasukan TNI terdiri di kawasan Bawah pohon Lipe Rayeuek, dan Bawah pohon Geurundong.

Kampong Alue Udeueng Teungoh juga dilakukan pemekaran posko baru pasukan TNI di dua titik yang meliputi kawasan Atas Buket Keutjhik Wahab, dan Kawasan Keude Alue Udeueng bagian Teungoh, semuanya pasukan Rajawali.

Sedangkan pasukan TNI dari Yon/ 712 Wira Buana juga melakukan hal yang sama dengan pasukan Rajawali di  kawasan Kampong Lueng Daneue tepatnya di Sekolah Dasar (SD) Negeri Inpres, Lueng Daneue, Peusangan, Bireuen. Tidak juga mundur pasukan TNI mendirikan posko baru di kawasan Kampong Blang Panjoe. Semua lokasi perkampungan di atas merupakan perkampungan dalam kawasan Peusangan, Bireuen dan dengan kekuatan 50 personil
pasukan di setiap pos.

Tanggal, 13-14 Desember 2002
Simpang Ulim, Acheh Timur
Pasukan TNI tadi melaku kan pemaksaan terhadap masyarakat yang melakukan pengungsian di kawasan Mesjid Matang Neuheuen, Bagok, Acheh Timur untuk pulang ke rumah masing-masing. Pengungsian ini terjadi sejak 11
Desember 2002 sampai sekarang.

Pengungsian yang dasarnya hanya 2 kampong saja, tadi pagi sudah bertambah pesat jumlahnya yang diakibatkan oleh pergerakan pasukan TNI yang sangat tinggi ke kawasan Nurussalam dan Bagok, Acheh Timur.

Dalam pemaksaan terhadap masyarakat yang sedang mengungsi pasukan TNI juga melepaskan tembakan secara membabibuta dengan tujuan menakutkan masyarakat, namun masyarakat juga tetap saja bertahan di lokasi pengungsian, kendati pun pemaksaan tetap saja dilakukan pasukan TNI.

Tanggal, 15 Desember 2002
Bagok, Acheh Timur
Nurdin Muhammad Ali (48) warga Kampong Seuneubok Buya, Bagok, Acheh Timur ditangkap pasukan TNI (Kopassus) BKO Idi, Acheh Timur pada 30 September 2002 sampai hari ini belum diketahui di mana keberadaannya. Penangkapan terhadap pekerja RBT (tukang ojek) ini dilibatkan masyarakat sipil yang telah dijadikan sebagai spionase TNI yang bernama Jafar. Saat tim orientasi Henry Dunant Centre (HDC) melakukan investigasi ke lapangan korban disembunyikan.

Semenatara di kawasan Lokop, Serba Jadi, Acheh pasukan TNI memblokir bahan sembako (sembilan bahan pokok) dan menjualnya dengan harga mahal (sesuai dengan harga yang ditetapkan pasukan TNI) dan masyarakat dnegan keterpaksaannya harus membelinya.

Di kawasan Kampong Alue Lhok, Bayeuen, Acheh Timur pasukan TNI menangkap Sri Handayani (19) warga setempat pada 17 September 2002 di kawasan Keude (pasar) Lokop, Acheh Timur dan tim orientasi Henry Dunnat Centre (HDC) mendapat larangan dari pasukan Indonesia saat melakukan investigasi ke lapangan.

Tanggal, 15 Desember 2002
Blang Pidie, Acheh Selatan
Seorang masyarakat sipil yang diketahui namanya Sukardi Efendi Syafi’i (22), warga Kampong Dusun Ingin Jaya, Kuala Batee, Acheh Selatan ditangkap pasukan TNI/ POLRI dalam sebuah operasi militer gabungan di kawasan tersebut pada 4 September 2002. Sampai sekarang keberadaan korban tidak
diketahui.

Tanggal, 15 Desember 2002
Panga, Acheh Barat
Operasi militer terus dilancarkan di berbagai daerah di Acheh pasca penandatanganan “peace agreement” di Jenewa, 9 Desember 2002. Sasaran operasi militer yang dilakukan adalah kawasan Panga, Acheh Barat. Operasi yang dilancarkan sejak 4 Desember 2002 sampai sekarang masih berlanjut, maka di sini jelas nampak terlihat tidak ada niat baiknya RI dalam menyelesaikan kasus Acheh lewat perdamaian seperti yang telah ditandatangani oleh keduabelah pihak.

Adapun nama-nama korban yang telah diketahui masing-masing:
1. Mustafa Thaleb (35),
2. Jafar M. Yunus (40),
3. Abu Bakar Muhammad (23),
4. Azhar Ali (28), dan
5. Mubin Abdurrahman (37), kelimanya warga Kampong Turi Eumpeuek, Panga, Acheh Barat, sedangkan
6. Muhammad Nur Husen (45), warga Kampong Harapan, Panga, Acheh Barat,
7. Drs. Anzur Muhammad Yusuf (35) warga Kampong Tuwi Kayee, Panga, Acheh Barat, dan
8. Jailani Ahmad (22), warga Kampong Tuwi Kareueng, Panga, Acheh Barat.

Ke-semua korban diatas, ditangkap pasukan TNI BKO Panga, Acheh Barat pada 4 Desember 2002 dan pada 11 Desember 2002 ditemukan menjadi mayat, masing-masing 5 mayat di kawasan Kampong Babah Ngom, Setia Bhakti, Acheh Barat dan 3 mayat di kawasan rawa-rawa. Sedangkan 12 masyarakat lagi sampai sekarang belum diketahui di mana keberadaannya.

Kemudian, masyarakat setempat melakukan pengungsian ke gedung sekolah di kawasan Panga, Acheh Barat. pasukan TNI juga mendatangi posko pengungsian tersebut untuk memaksa masyarakat agar pulang kampong masing-masing, namun masyarakat  menolaknya.

Tim orientasi Henry Dunnat Centre (HDC) Acheh Barat, telah berusaha mendatangi lokasi kejadian dan tempat pengungsian, namun dilarang dan dihalangi oleh pasukan TNI, sehingga tim tersebut tidak berhasil melakukan investigasi langsung ke lokasi pengungsian. Selain itu juga ada 2 masyarakat yang ditangkap di kawasan Setia Bhakti, Acheh Barat masing-masing: Ernawati dan Abdul Rani (40).

Tanggal, 16 Desember 2002
Tijue, Pidie
Mulai pukul 08 . 00-22. 00 wa (tadi malam) pasukan Polisi Polres Pidie melakukan pemerasan terhadap pemilik rumah toko (ruko) di kawasan Tijue, Pidie. Pemerasan yang dikomandoi oleh Ali AB (Anggota Polres Pidie) di batasi sebanyak Rp. 250. 000,- (Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) per ruko. Sementara, pemilik ruko semalam telah sepakat untuk tidak membayarnya. Keterangan lebih lanjut belum diperoleh karena tidak tersambung dengan salah seorang korban yang bersedia menjadi saksi mata dalam kasus ini.

Achenese Civil Society Community and Teugku Amni Ahmad Marzuki juga merumuskan laporan ini.

     

 

   
BACA BERITA LALU
Index berita 2001
Photo Acheh, Masaru Goto
HOME, Halaman Muka/Malay edition
 

Home | News - Letters | InternetCoverage | Timeline | List of Incidents | Info on Refugee | Acheh-History | Politics | Business-Ethic | Opinions | Civil Movements | Arts & Humanities | Spirituality | Quotable Quotes | Photo Gallery | Video Gallery | Well-Being | Scholarships | WorldWide media | Malay Edition | Achenese Edition


Archive | AT Inc. & Disclaimer | Testimonials | Write Us

Copyright © 1999 - 2002 The Acheh Times, powered by Hivelocity.