AT Halaman Muka Arsip, versi Inggris Arsip, versi Malay Surati Kami

 

 
 
 
   
 
The Acheh Times is best viewed by:

Pernyataan teror terhadap rakyat Acheh

Provokator dan antisipasi masyarakat

 
Prajurit TNA tak bersenjata, a/n Azhar (32), syahid dibunuh tgl 24 Jan 2003, sekira pukul 11.30, dengan berondongan peluru dan dua orang lainnya, Saiful (30) dan  Rusli (28) diculik oleh Gegana Polri pada saat yang bersangkutan sedang  berada di rumah masing-masing di Ulee Kareng. Puluhan anggota Gegana dan dibantu oleh polisi umum yang diangkut dengan 6 unit mobil datang menggerebek dan menembak dan menculik anggota TNA yang sedang berada di rumah masing-masing.
 
26 jan, 2003 —— ASNLF (GAM) menyesalkan ucapan Menkosospolkam RI, SBY dan Panglima TNI, Endriarto Sutarto, yang menyatakan akan menarik diri dari Kesepakatan Bersama Penghentian Permusuhan (KBPP). Pernyataan semacam ini merupakan teror terhadap rakyat Acheh yang baru mulai merasakan suasana damai. rakyat Acheh sudah lama menderita lahir batin, kami harap tidak diteror lagi. Seharusnya pejabat RI lebih concern terhadap bagaimana mematuhi butir-butir KBPP agar tidak terjadi lagi pelanggaran-pelanggaran di masa yang akan datang.

 

Oleh Teungku Sofyan Dawod  
Jurubicara TNA, Komando Militer Pusat
 
Laporan sebelumnya  

 
'Jakarta mungkin tidak diberitahu bahwa yang paling banyak melakukan pelanggaran terhadap KBPP adalah TNI dan Polri, mulai dari pemerasan dan pungli, operasi militer sampai dengan pembunuhan.'   udingan SBY dan Sutarto di media masa bahwa seolah-olah GAM selalu dan satu-satunya yang melanggar KBPP adalah tak lebih dari usaha menciptakan opini publik untuk menutupi kesalahan sendiri yang demikian banyak. Tudingan tersebut selain merupakan pemutarbalikan fakta yang serius dapat juga diartikan bahwa perajurit TNI/Polri di Acheh tidak melaporkan secara utuh dan jujur apa yang sedang terjadi di Acheh saat ini. Laporan-laporan ABS semacam ini jelas berdampak tidak baik bagi semua pihak selain dapat menyesatkan pihak Jakarta sendiri. Jakarta mungkin tidak diberitahu bahwa yang paling banyak melakukan pelanggaran terhadap KBPP adalah TNI dan Polri, mulai dari pemerasan dan pungli, operasi militer sampai dengan pembunuhan. Jakarta juga tidak diberitahu bahwa delegasi JSC/TMT-RI lah yang senantiasa berusaha menggagalkan setiap investigasi terhadap kasus-kasus dimana RI menjadi tersangka pelakunya.

ASNLF (GAM) menyatakan sangat setuju dengan SBY bahwa JSC/TMT harus menginvestigasi setiap pelanggaran secara profesional dan adil. HDC hendaknya tidak lagi mentolerir upaya-upaya para pihak untuk menggagalkan investigasi. Demikian juga, para delegasi JSC dan TMT harus dijamin keamanan dan keselamatannya oleh pihak RI dan ASNLF (GAM). Kami berharap tidak akan mendengar lagi ada kasus dimana anggota JSC/TMT dianiaya dan diintimidasi oleh pasukan salah satu pihak.

BACA sumber LAIN

Berita/Link Non-Affiliasi

  Pasukan TNI tidak akan ditarik dari Acheh  
  Persoalan Aceh masih bayangi Polkam Nasional 2003  
  Sembilan prajurit linud 100/PS pernah tugas di Acheh dovonis  
  GAM: Perlu pihak netral teliti kejahatan perang di Acheh  

ASNLF (GAM) mengutuk penembakan oleh Kapal Perang RI terhadap satu boat neayan tradisional asal Idi Cut di Kuala Simpang Ulim, Acheh Timur. Dalam pembantaian tersebut sebanyak 4 orang nelayan telah ditemukan tewas sementara 2 orang lagi masih hilang. TNA juga menyesalkan sikap delegasi JSC-RI yang menghalang-halangi dilakukannya investigasi terhadap kasus pembantaian ini yang mana sampai dengan hari tanggal 21 Januari tim JSC belum turun ke lokasi untuk melakukan investigasi, sekaligus memprotes HDC yang seolah mengabaikan kasus jika yang menjadi korban adalah rakyat Acheh dan anggota TNA. HDC biasanya sangat vokal dan anthusias memberi komentar yang menyudutkan GAM jika yang menjadi korban adalah TNI.

Satu lagi bukti kebiadaban serdadu TNI di Acheh adalah dengan diketemukannya sebuah kuburan yang berisi 3 mayat di bekas posko TNI di Acheh Utara. Para korban ditangkap pada tanggal 7 Desember 2002 dan masih terlihat hidup dan dibawa operasi oleh TNI sampai dengan tanggal 10 Januari 2003. Korban diperkirakan dihabisi pada tanggal 10 Januari 2003 malam, karena keesokannya TNI meninggalkan posko tersebut tanpa terlihat membawa ketiga korban. JSC telah melakukan investigasi dan telah menanyai para saksi. Terimakasih disampaikan kepada JSC Acheh Utara, namun rakyat masih menunggu follow up dari kasus tersebut. Di Peureulak, dua orang anggota TNA tak bersenjata diculik oleh Brimob Posko Polsek Idi Cut sejak tanggal 16 Januari 2003. Walaupun telah berkali-kali dilaporkan ke JSC dan HDC, kedua orang tersebut, Iswanto dan Mustapha, belum diketahui bagaimana nasibnya. Di Langsa, Abdullah Saleh, seorang anggota tak bersenjata lainnya diculik oleh Satuan Gabungan Intelijen RI pada tanggal 20 pukul 1400 dan ditemukan telah menjadi mayat pada hari yang sama pukul 2000. TNA meminta JSC segera menginvestigasi kejadian ini dan menghukum pihak yang bersalah.

Photo AGAM, Pase Summit    

Antisipasi masayarakat terhadap provokator

 

 

 

 

 

 

'Setelah diinterogasi secara kilat oleh Bentara Acheh, terungkap bahwa yang digebuki oleh masyarakat adalah salah seorang anggota TNI dari Yonif 113/JS.'

  Pada tanggal 23 Januari 2003, sekira pukul 1130, masyarakat Ujong Blang Kecamatan Banda Sakti, Acheh Utara, telah menangkap seorang yang disangka agent provocateur. Tersangka tersebut memperlihatkan gerak-gerik agak aneh sehingga memancing kecurigaan masyarakat. Pada saat ditangkap beramai-ramai, tersangka melawan dan sempat memukul beberapa masyarakat yang menangkapnya, namun akhirnya tertangkap juga. Kecurigaan terhadap yang bersangkutan semakin bertambah setelah di dalam bajunya ditemukan satu unit granat tangan aktif.

Masyarakat yang semakin yakin bahwa yang bersangkutan adalah agent provocateur sempat memukulnya beramai-ramai sampai babak belur. Nyawa yang bersangkutan terselamatkan dengan kedatangan beberapa Polisi GAM (Bentara Acheh). Setelah diinterogasi secara kilat oleh Bentara Acheh, terungkap bahwa yang digebuki oleh masyarakat adalah salah seorang anggota TNI dari Yonif 113/JS bernama Prada Amwidia. Oleh karena luka-luka yang dideritanya dianggap parah, anggota Bentara Acheh membawanya dengan sepeda motor (bonceng tiga) ke sebuah Puskesmas untuk diobati. Namun di tengah jalan, Prada Amwidia, mencoba meronta sehingga sepeda motor terbalik yang menyebabkan dua polisi GAM cidera, bahkan satu orang mengalami retak tulang kaki. Kejadian ini memaksa anggota Bentara Acheh mengikat tangan terdakwa, lalu perjalanan dilanjutkan ke Puskesmas dimana Prada Amwidia mendapat pengobatan.Bentara Acheh sebelumnya telah mengontak tim JSC di Lhokseumawe dan di Banda Acheh memberitahukan hal tersebut dan meminta kepada JSC agar dapat menjemput anggota TNI tersebut untuk dikembalikan ke kesatuannya secara baik-baik. Acara serah terima Prada Amwidia dilakukan pada pukul 1600 dan selesai pukul 1700.

TNA berharap agar semua pihak dapat menjadikan kasus ini sebagai pengalaman yang baik agar ke depan pasukan kedua belah pihak lebih disiplin, terutama dalam hal penggunaan senjata atau bahan peledak. Hal ini juga agar dapat dijadikan suri tauladan tentang bagaimana seharusnya angkatan bersenjata atau penegak hukum kedua belah pihak memperlakukan tawanan/tersangka. TNA, sebagai sesama prajurit, menyampaikan simpati atas luka-luka yang diderita oleh Prada Amwidia sekaligus berharap agar pribadi yang bersangkutan dan teman-teman korp-nya tidak dendam pada masyarakat yang pada hakikatnya sangat concern dengan kelangsungan masa damai ini. Disarankan juga, agar masyarakat tidak main hakim sendiri, apabila ada hal-hal yang mencurigakan agar dilaporkan kepada Bentara Acheh terdekat.

Menanggapi seruan Pangdam-I/IM, TNA dan Bentara Acheh hanya dapat bekerjasama dengan TNI/Polri dalam batas-batas yang digariskan dalam Kesepakatan Bersama Penghentian Permusuhan (KBPP) dan mestilah merupakan bagian dari KBPP tersebut. Pada hakikatnya, citra TNI/Polri negatif dimata bangsa Acheh dan, oleh karena itu, kami tidak ingin tercemar oleh citra negatif tersebut.

TNA mensinyalir bahwa pemerasan-pemerasan yang terjadi setelah penandatanganan KBPP merupakan bagian dari operasi intelijen untuk menyudutkan ASNLF (GAM) dan untuk sabotase KBPP. Kami minta masyarakat agar dapat membedakan antara emas dan loyang.

Untuk informasi selanjutnyan, anda bisa menhubungi langsung Free Acheh Movement; Tel: +46 (0) 8 531 83833, +46 (0) 8 531 91275, +46 (0) 70 699 3982

   

 

 

 
BACA BERITA LALU
Index berita 2001
Photo Acheh, Masaru Goto
HOME, Halaman Muka/Malay edition
 
 

Home | News - Letters | InternetCoverage | Timeline | List of Incidents | Info on Refugee | Acheh-History | Politics | Business-Ethic | Opinions | Civil Movements | Arts & Humanities | Spirituality | Quotable Quotes | Photo Gallery | Video Gallery | Well-Being | Scholarships | WorldWide media | Malay Edition | Achenese Edition


Archive | AT Inc. & Disclaimer | Testimonials | Write Us

Copyright © 1999 - 2003 The Acheh Times, powered by Hivelocity.