Raw News | Community Bulletins | Open Forum | Forum/Malay | Forum/Achenese

Contents | Search | Next | Previous
Dana Tsunami

Cari documents

Berita tahun lalu

Paska Tsunami: PBB Harus Memediasi Konflik Politik di Acheh

Author: SIRA
Category: Acheh Tsunami
Date: 01/08/05

Comentary

SURAT TERBUKA

Nomor : 03/DP-SIRA/B/I/2005

 

Kepada Yang Mulia ;

Bapak Kofi Annan, Sekretaris Jenderal PBB c/g

Bapak Kepala Perwakilan PBB untuk Indonesia

Di - Jakarta

Salam Perdamaian;

Sehubungan dengan kedatangan Tuan ke Jakarta dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tentang penanggulangan bencana gempa di Acheh dan kunjungannya ke Acheh, SIRA menyampaikan selamat datang dan sangat menghargai langkah yang diambil tersebut. SIRA memberikan perhatian khusus untuk kunjungan ini. Kunjungan ini mungkin akan memberikan banyak manfaat bagi rakyat Acheh, baik yang mengalami musibah maupun yang selamat.

Untuk itu, kami dari SIRA perlu menyampaikan beberapa kondisi objektif di lapangan pasca terjadinya gempa dan tsunami. Pasca gempa dan tsunami, kondisi Acheh sangat tidak menentu, berantakan dan rusak. Roda pemerintahan RI di Acheh benar-benar lumpuh total. Bahkan dapat dikatakan, Acheh menjadi daerah tak bertuan. Aktivitas masyarakat juga berhenti. Sementara ekses gempa masih terasa di sekitar wilayah-wilayah yang dilanda musibah. Banyak mayat-mayat yang belum berhasil di evakuasi dan korban kritis yang tidak bisa diselamatkan karena lambannya (ketidak mampuan) pemerintah RI dalam menangani korban. Selain itu niat baik PBB dan negara-negara sahabat yang ingin memberikan pertolongan pada awal terjadinya gempa dan badai tsunami dihambat oleh RI, bantuan luar baru bisa masuk ke Aceh pada hari ke 5 pasca kejadian sehingga banyak korban kritis yang tidak bisa diselamatkan.

Selain itu banyak masyarakat yang selamat, kini mengungsi di tempat-tempat yang aman, untuk menghindari kemungkinan terjadinya bencana susulan. Wabah penyakit mulai menjangkit di wilayah-wilayah yang menimpa musibah, sehingga banyak dari masyarakat yang harus mengungsi keluar Acheh karena takut ketularan.

Sementara masyarakat yang masih bertahan di Acheh dan di kamp-kamp pengungsian mulai diserang berbagai penyakit seperti diare, muntah-muntah dan gatal-gatal. Masalah lain yang tak kalah pentingnya adalah masyarakat mulai kelaparan karena lambannya bantuan yang datang. Malah 5 hari pasca terjadinya gempa dan tsunami, banyak masyarakat yang kelaparan hal itu karena langkanya bahan makanan di wilayah-wilayah yang menimpa musibah. Apalagi bantuan yang diperuntukkan untuk korban gempa banyak bertumpuk di bandara dan tempat-tempat penampungan karena sulitnya jalur transportasi, dan beberapa daerah yang kena gempa masih terisolir.

Masalah lain yang timbul pasca gempa adalah tidak menentunya kondisi di setiap daerah yang kena musibah. Seperti mulai terjadinya penjarahan, perampokan terhadap harta-harta yang ditinggalkan masyarakat karena mengungsi atau menyelamatkan diri, oleh TNA menuduh TNI/Polri yang melakukannya begitu juga sebaliknya. Selain itu, pihak TNI/Polri menggunakan kesempatan gempa untuk melakukan penyerangan terhadap TNA dan meningkatnya operasi inteljen. Tindakan ini bisa memancing perang terbuka dan merupakan isyarat yang tidak positif bagi penyaluran bantuan kemanusiaan serta akan memperpanjang duka rakyat Acheh.

Merespon kondisi itu, SIRA menyampaikan beberapa hal menyangkut kondisi objektif Acheh dan harapan masyarakat Acheh pada PBB dan lembaga internasional lainnya.

  • SIRA menyampaikan terima kasih atas kepedulian PBB dalam membantu korban gempa dan tsunami di Acheh. Hal yang sama juga ditujukan kepada negara-negara dan lembaga internasional lainnya yang begitu cepat bergerak membantu dan memberikan bantuan kepada korban gempa dan tsunami di Acheh.

  • SIRA meminta kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membantu rekontruksi Acheh pasca gempa dan tsunami. Bantuan PBB tidak hanya untuk korban gempa dan tsunami melainkan pasca gempa. Tanpa keterlibatan internasional, pembangunan Acheh pasca tsunami akan berantakan. Pembangunan itu perlu ditangani sendiri oleh badan-badan internasional.

  • SIRA memandang perlu keterlibatan Internasional yang lebih besar untuk terlibat dalam penyelesaian konflik Acheh. SIRA memandang, bantuan yang diberikan dan terus mengalir ke Acheh tidak akan memiliki makna apa-apa jika persoalan konflik tidak diselesaikan. Untuk sementara bantuan itu memang bermanfaat, tapi tidak untuk waktu yang panjang. Karena yang dibutuhkan rakyat Acheh bukan hanya sekedar bantuan melainkan juga diselesaikannya konflik yang sudah menelan korban ribuan. Untuk itu momentum kunjungan Tuan sebagai Sekjend PBB ke Jakarta dan ke Acheh juga perlu digunakan untuk menggagas agenda perdamaian pasca gempa dan tsunami.

  • SIRA tetap memandang Peran PBB mutlak diperlukan untuk mendorong RI dan PNA/GAM menghentikan perang selamanya dan memberi kesempatan seluruh rakyat Acheh yang ingin menentukan masa depan dan status politik. PBB harus membuka diri untuk menfasilitasi dan memediasi keinginan rakyat Acheh untuk menentukan nasib sendiri.

Penyelesaian politik antara RI – PNA/GAM harus segera dimulai lagi di meja perundingan Internasional dan penghentian perang untuk tujuan kemanusiaan, pembangunan yang aman dan kebebasab jangka panjang bagi rakyat Acheh. Kalau proses perdamaian tidak dilakukan segera maka rakyat Acheh semakin bertambah menderita dan tertindas pasca bencana tsunami itu. Sebab perang, pelanggaran HAM, ketidak adilan akan terus berlanjut. Karena itu SIRA menyerukan dan mendesak dukungan dan dorongan Internasional yang serius untuk hal itu sebagaimana perhatian mereka terhadap bencana tsunami.

Banda Acheh, 6 Januari 2005

Sentral Informasi Referendum Acheh (SIRA)

Nasruddin Abubakar/Presidium; Faisal RD/Presidium; Muhammad Saleh/Presidium

 

Tembusan:

1. Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia di Jakarta

2. Bapak Malik Mahmud, Perdana Menteri Negara Acheh/GAM di Swedia

3. Media Massa

 

Catatan:

SIRA (Sentral Informasi Referendum Acheh) adalah sebuah lembaga perjuangan rakyat yang dibentuk oleh 104 organisasi Mahasiswa, pumuda, santri dan siswa pada tanggal 4 Februari 1999 melalui Kongres Mahasiswa dan Pemuda Acheh Serantau (KOMPAS). Pada 8 November 1999 SIRA berhasil mengumpulkan 2 juta rakyat Acheh dihalaman Mesjid Raya Baiturrahman Banda Acheh untuk melakukan aksi damai dalam memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri secara damai dan demokratis.

Kontak person (Cellular/Mobil): 08158760497, 081514229593, 0816343793

 

 

 

 

AT FrontPage | Quotable Quotes | Scholarships | WorldWide media | Malay Edition | Achenese Edition  | WordWealth | Community

Archive | AT Inc. & Disclaimer | Testimonials | Write Us

Copyright © 1999 - 2006 The Acheh Times, powered by Hivelocity.