![]() |
Raw News | Community Bulletins | Open Forum | Forum/Malay | Forum/Achenese |
| Contents | Search | Next | Previous |
|
|
Hukum dan Keamanan terhadap Kelanjutkan Operasi Terpadu di AchehAuthor: SEGERA dan KSO-FPDRA Pernyataan sikap Bersama Tentang Hasil rapat koordinasi bidang politik, hukum dan keamanan untuk melanjutkan operasi terpadu di Acheh
Landasan apapun yang dipakai oleh pemerintah untuk memperpanjangan darurat sipil dan/atau operasi terpadu yang secara subtansial merupakan operasi militer di Acheh, merupakan bentuk dari dualisme kebijakan pemerintah Indonesia dalam menangani persoalan Acheh khususnya pasca kejadian bencana tsunami. Melanjutkan operasi terpadu di Acheh ditengah tekanan banyak pihak untuk menyelesaikan konflik Acheh melalui perundingan dan perdamaian, yang sekarang sedang dilakukan di Helsinki Filandia, merupakan sebuah bukti kongkrit bahwa pemerintah Indonesia tidak ada niat baik untuk melakukan penyelesaian Acheh dengan cara yang demokratis, damai dan jauh dari pendekatan Militer. Pertemuan di Helsinki dengan pihak GAM yang dilakukan oleh pemerintah, hanya terkesan untuk menyelesaikan sebuah kewajiban akan kebutuhan tampilan politik Indonesia di Internasional. Dimana internasional mendesak agar pemerintah Indonesia untuk kembali melakukan perundingan dengan GAM dan menyelesaikan konflik Acheh bukan dengan cara pendekatan Militer. Keinginan ini direspon dengan cara melakukan perundingan dengan pihak GAM di Helsinki, namun dari jalannya perundingan yang telah berlangsung dua kali di Helsinki, bisa dilihat sebenarnya pemerintah Indonesia menginginkan agar GAM mau bertahan pada posisi tuntutan kemerdekaan, dan tidak melakukan konpromi, agar ada legitimasi untuk tidak melanjutkan perundingan dan kembali melakukan pendekatan militer. Namun yang terjadi di Helsinki sebaliknya, GAM mau melakukan kompromi politik, yang begitu besar dengan menyisihkan tuntutan merdeka dan memfokuskan pembicaraan pada persoalan gencatan senjata, monitoring, rekonstruksi dan juga mau membahas persoalan draf otonomi khusus (pemerintahan sendiri—tawaran atas konsep otonomi khusus versi GAM). Kompromi yang dilakukan oleh pihak GAM tidak diikuti dengan konsesus yang positif oleh pemerintah Indonesia, bahkan dalam hal ini pemerintah terus melakukan provokasi melalui aksi-aksi militer, seperti patroli rutin, yang sering berakhir dengan kontak senjata, atau melakukan operasi pengejaran terhadap pihak GAM dan bahkan kembali melakukan razia KTP di sepanjang jalan Banda Acheh-Medan. Selain itu untuk bisa menyembunyikan semua tidakan atau aksi militer yang dilakukan oleh pemerintah, dengan harapan perundingan di Helsinki bisa gagal, pemerintah Indonesia mulai melakukan pembatasan terhadap orang asing di Acheh, yang melakukan misi kemuanusiaan terhadap korban tsunami, dengan cara membuat kartu tanda pengenal khusus, dan semuanya diberi batas waktu sampai 6 maret 2005. Maka kami dari Solidaritas Gerakan Rakyat Untuk Acheh (SEGERA) dan Front Perlawanan Demokratik Rakyat Acheh (FPDRA) menilai bahwa melanjutkan operasi terpadu di Acheh pasca bencana tsunami merupakan sikap pemerintah yang dualisme dan tidak adanya political will, dalam menyelesaikan konflik Acheh. Dan kondisi ini dapat kami simpulkan bahwa sebenarnya pemerintah Indonesia tidak menginginkan penyelesaian Acheh secara damai dan demokratis, tetapi lebih berkeinginan untuk selalu menjadikan isu Acheh sebagai isu militer. Kompromi yang dilakukan oleh GAM bukan dilihat sebagai kemajuaan dalam menyelesaikan konflik Acheh tetapi dilihat sebagai kemunduran, karena semakin menyempitnya peluang untuk melakukan agresi militer di Acheh, sehingga untuk membuka peluang tersebut pemerintah terus melakukan provokasi militer di Acheh baik secara tindakan maupun kebijakan politiknya, sehingga GAM menjadi tidak percaya lagi dengan perundingan dan mau menarik diri dari meja perindingan sehingga ada legitimasi untuk kembali melakukan perang. Maka untuk itu kami mendesak pemerintah dan TNI untuk:
Untuk informasi lebih lanjut tentang laporan ini, hubungi Solidaritas Gerakan Rakyat Untuk Aceh (SEGERA), Arie Ariyanto Koordinator. Komite Sentral Organisasi Front Perlawanan Demokratik Rakyat Aceh (KSO-FPDRA), Thamrin Ananda, Ketua. Email ksofpdra@yahoo.com
|
|
|
| AT FrontPage | Quotable Quotes | Scholarships | WorldWide media | Malay Edition | Achenese Edition | WordWealth | Community |
|
|
|
Copyright © 1999 - 2006 The Acheh Times, powered by Hivelocity. |
|
|